4 September 2026 18:22
Sebanyak 126 siswa SD Inpres (SDI) Jarak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di bawah pohon dan tenda darurat. Kondisi ini terjadi setelah bangunan sekolah mereka mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus lalu.
Kepala Sekolah SDI Jarak, Hermelinda Lidi, menjelaskan bahwa pihak sekolah sempat mencoba metode pembelajaran daring selama dua minggu. Namun, langkah tersebut tidak efektif karena banyak siswa yang tidak memiliki perangkat telepon seluler. Akhirnya, sekolah memutuskan kembali melakukan pertemuan tatap muka di lingkungan sekolah meski dengan fasilitas seadanya.
“Kami melaksanakan kurang lebih selama ini dua minggu melaksanakan kegiatan KBM-nya melalui daring, tapi tidak terkoneksi dengan baik karena ada beberapa anak-anak yang tidak memiliki HP. Sehingga kami mengadakannya untuk kita melaksanakan kegiatan KBM-nya di sekolah kembali, tapi dengan persyaratannya bahwa satu hari cuma dua kelas yang hadir di sekolah," ujar Hermelinda dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Jumat, 4 September 2026.
Saat ini, sekolah hanya memiliki satu tenda darurat. Akibatnya, para siswa harus belajar secara bergantian. Dua rombongan belajar menggunakan tenda secara bergilir, sementara siswa lainnya belajar di ruang terbuka di bawah pohon rindang dengan sekat-sekat dari terpal atau baliho bekas.
Meski harus terpapar panas matahari dan duduk di fasilitas terbatas, semangat para siswa untuk menuntut ilmu tidak surut. Pihak sekolah kini tengah berupaya mengajukan permohonan bantuan tambahan tenda darurat serta perbaikan gedung agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal dan aman bagi para siswa dan guru.