Kemendikdasmen Percepat Pendataan Sekolah Rusak Terdampak Gempa NTT

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah membangun puluhan tenda untuk kelas sementara pascagempa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (4/9/2026). ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen.

Kemendikdasmen Percepat Pendataan Sekolah Rusak Terdampak Gempa NTT

Anggi Tondi Martaon • 4 September 2026 14:11

Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pendataan satuan pendidikan yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemendikdasmen terus berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT guna memastikan pendataan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dikutip dari Antara, Jumat, 4 Septemper 2026.

Mu'ti menjelaskan, Kemendikdasmen menurunkan tim di tujuh kabupaten di Pulau Flores yang terdampak gempa. Yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.

Pihaknya mencatat per 16 Agustus sebanyak 253 satuan pendidikan terdampak. Jumlah tersebut terdiri atas 199 satuan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB (kewenangan kabupaten) dan 54 satuan jenjang SMA/SMK/SLB (kewenangan provinsi).

Jumlah tersebut, termasuk ruang kelas baru hasil Revitalisasi 2026. Salah satunya di SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang.

Hingga saat ini, Mu'ti mengatakan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) sebagai simpul penanganan bencana di lapangan terus melakukan proses pendataan dan penanganan kerusakan.

“Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru,” ungkap Mu'ti.

Kemendikdasmen juga mengarahkan satuan pendidikan untuk menghentikan sementara pembelajaran di ruang kelas yang rusak. Pembelajaran dipindahkan ke ruang aman, tenda belajar, atau meliburkan pembelajaran sementara sesuai kondisi daerah.

“Kami juga menyiapkan dukungan psikososial melalui kerja sama dengan HIMPSI. Layanan tersebut akan segera bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi kondisi lapangan,” sebut Mu'ti.

Pembangunan Tenda untuk tempat belajar SMA S St. Gregorius Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur/Foto: Kemendikdsamen.

“Langkah selanjutnya adalah mendorong pembersihan sekolah yang masih aman digunakan serta mengoordinasikan pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk kebutuhan sarana dan alat belajar,” imbuh Mu'ti.

Sebagai respons cepat menjaga keberlanjutan pembelajaran sekaligus mengutamakan keselamatan warga sekolah, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat yang bergerak melalui dua klaster ekspedisi. Selain bantuan fisik, Kemendikdasmen menyiapkan dukungan konektivitas melalui Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi.

“Tim lintas direktorat di Kemendikdasmen juga mulai bergerak ke lapangan untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan, dan koordinasi pemulihan layanan pendidikan,” ujar Mu'ti.

Tahap pertama mengirim 30 tenda dari penyimpanan Jakarta dan Yogyakarta menuju Pelabuhan Labuan Bajo. Pengiriman juga membawa 1.000 paket Family Kit, 200 paket, school kit umum, dan 2.000 paket school kit SMA/SMK untuk mendukung kebutuhan warga sekolah di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

(Anggi Tondi)