2 Pekan Pascagempa, 1.221 Sekolah di NTT Belum Kembali Belajar

Pembangunan Tenda untuk tempat belajar SMA S St. Gregorius Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur/Foto: Kemendikdsamen

2 Pekan Pascagempa, 1.221 Sekolah di NTT Belum Kembali Belajar

Palce Amalo • 31 August 2026 15:05

Kupang: Sebanyak 1.221 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar setelah terdampak gempa bumi. Situasi tersebut turut membuat 141.207 siswa belum dapat kembali mengikuti proses pembelajaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemulihan sektor pendidikan pascabencana membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, tidak hanya pemerintah.

“Bencana ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi semesta bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika perguruan tinggi mengirimkan mahasiswa untuk pendampingan psikososial, organisasi kemanusiaan membantu memenuhi kebutuhan dasar, dan masyarakat ikut bergerak, kita sedang membangun kekuatan bersama untuk mempercepat pemulihan pendidikan di Flores,” kata Abdul Mu’ti, seperti dilansir Antara, Senin, 31 Agustus 2026.

Abdul Mu’ti menjelaskan pemerintah terus melakukan sejumlah langkah untuk memulihkan kegiatan pendidikan di wilayah terdampak. Upaya tersebut meliputi pendataan kebutuhan sekolah, pembukaan akses menuju sekolah yang belum terjangkau, penyediaan ruang kelas darurat (RKD), serta pendampingan psikososial bagi siswa.

Data per 23 Agustus 2026 mencatat sebanyak 1.918 satuan pendidikan di tujuh kabupaten dan 97 kecamatan terdampak gempa.

Dari jumlah tersebut, 665 sekolah mengalami kerusakan berat. Sebanyak 6.927 ruang kelas juga tercatat mengalami kerusakan berat. Selain mengganggu proses belajar, bencana tersebut membuat 48.164 warga sekolah harus mengungsi.
 


Kebutuhan ruang kelas darurat masih cukup besar. Sebanyak 785 sekolah telah mengusulkan pembangunan atau penyediaan 2.908 unit RKD.

Hingga Minggu, 30 Agustus 2026, sebanyak 89 tenda untuk ruang kelas darurat telah terpasang. Sementara itu, sembilan tenda masih dalam perjalanan dari Pos Logistik Pendidikan Manggarai Timur dan dua tenda lainnya dikirim dari Pos Logistik Labuan Bajo.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah satuan pendidikan terdampak terbanyak, yakni 381 sekolah dengan 1.887 ruang kelas terdampak. Selanjutnya, Nagekeo tercatat memiliki 1.487 ruang kelas terdampak dan Manggarai Timur sebanyak 1.200 ruang kelas.

Dari total 1.918 satuan pendidikan yang terdampak, baru 37 sekolah yang telah menjalankan pembelajaran darurat. Sebanyak 295 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sedangkan 1.568 sekolah lainnya masih belum tertangani. Di antara sekolah terdampak tersebut, 344 sekolah merupakan penerima program revitalisasi tahun 2025/2026.

Pemulihan pendidikan tidak hanya diarahkan pada perbaikan sarana sekolah. Kondisi psikologis siswa juga menjadi perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.


Relawan tengah berdiskusi menentukan barang bantuan yang akan dibawa untuk diserahkan kepada pengungsi. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.

Sejumlah perguruan tinggi mulai mengirimkan tim untuk memberikan pendampingan psikososial kepada anak-anak di wilayah terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu siswa kembali menjalani aktivitas sekaligus membangun kembali motivasi belajar setelah gempa.

Salah satu tim yang terlibat ialah Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro (Undip). Tim tersebut memberikan pendampingan psikososial di Kabupaten Ngada pada Jumat, 28 Agustus 2026, serta di SD Woe Natarandang, Bejawa, pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan proses pembelajaran yang terhenti di 1.221 sekolah terdampak.

Selama masa transisi pembelajaran yang berlangsung hingga tiga bulan ke depan, Kemendikdasmen juga akan melakukan pembenahan sanitasi dan asesmen teknis terhadap bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Proses asesmen melibatkan tim ahli bangunan.

Data Tim Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menunjukkan kerusakan akibat gempa juga mencakup fasilitas penunjang pendidikan. Sebanyak 418 laboratorium, 1.928 toilet, dan 370 rumah dinas guru tercatat mengalami kerusakan.

(Whisnu M)