Gencatan Senjata AS-Iran Picu Gairah Pasar Saham Global

8 April 2026 20:01

Pasar saham global, khususnya di kawasan Asia Timur, bereaksi positif menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyepakati gencatan senjata dengan Iran. Sentimen perdamaian ini langsung meredakan ketegangan geopolitik dan meningkatkan kepercayaan investor pada perdagangan Rabu pagi, 8 April 2026.

Bursa Korea Selatan memimpin penguatan signifikan segera setelah pasar dibuka. Indeks acuan KOSPI melonjak ke level 5.778,92, atau naik sebesar 5,17% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Tren positif ini diikuti oleh indeks Nikkei Jepang yang mencatatkan kenaikan lebih dari 4%.

Di tempat lain, pasar saham Taiwan (TAIEX) juga menunjukkan performa impresif dengan lonjakan lebih dari 1.000 poin pada pembukaan perdagangan. Gencatan senjata yang disepakati selama dua pekan tersebut dinilai menjadi katalis utama yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah.
 

Baca juga: Gegara Konflik Timteng, BI Akui Ruang Penurunan BI-Rate Makin 'Tipis'

Kondisi serupa terjadi di pasar modal dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dibuka rebound ke level 7.162, setelah sebelumnya sempat melemah di posisi 6.971. Hingga penutupan perdagangan sesi I, IHSG tercatat menguat 236,13 poin atau sebesar 3,38% ke level 7.207,15.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 529 emiten saham menguat, sementara 139 emiten melemah, dan 145 emiten lainnya stagnan. Menurut rilis dari Stockbit Research Team menyebutkan bahwa pergerakan hijau IHSG hari ini didorong oleh dua sentimen utama: pengumuman gencatan senjata AS-Iran serta bertahannya status Indonesia dalam Secondary Emerging Market pada indeks peningkatan global.

Berbanding terbalik dengan pasar saham, harga minyak mentah justru mengalami penurunan tajam seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat turun 14,7% ke level 96,27 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent standar internasional merosot 14,4% menjadi 93,48 dolar AS per barel.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)