13 October 2026 16:01
Pemerintah Kota Palembang memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh pelajar di wilayahnya. Langkah ini diambil guna melindungi kesehatan para siswa dari paparan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra Selatan.
Penerapan sistem sekolah daring tersebut dilakukan menyusul kondisi kualitas udara Palembang yang berada pada tingkatan membahayakan. Hasil pemantauan indeks kualitas udara menunjukkan Palembang mencatatkan angka 212, yang tergolong dalam kategori sangat tidak sehat atau parah.
Ancaman terbesar bagi para siswa berasal dari paparan partikel halus hasil pembakaran lahan. Konsentrasi PM 2,5 terukur mencapai 163 mikrogram/meter kubik, sedangkan konsentrasi PM10 menyentuh angka 193 mikrogram/meter kubik. Tingginya partikel beracun ini berpotensi kuat memicu gangguan pernapasan akut jika anak-anak tetap beraktivitas di luar rumah.
Asap Kiriman Daerah Penyangga Picu Lonjakan ISPA
Pengepungan asap di Kota Palembang dipicu oleh maraknya kebakaran lahan di kawasan penyangga, seperti Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, hingga wilayah pinggiran Palembang sendiri. Embusan angin juga membawa masuk asap karhutla dari wilayah tetangga, yaitu Provinsi Jambi.
Paparan kabut asap yang berlangsung selama dua hingga tiga bulan ini ber dampak langsung terhadap lonjakan kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), khususnya pada anak-anak.
"Tolonglah pemerintah terutama pemerintah pusat untuk serius menangani kebakaran lahan karhutla, terutama karhutla ini imbasnya ke asap menyebabkan banyaknya anak-anak terserang infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA," tegas Kontributor Metro TV Jian Piere Papin dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Lumpuhkan Transportasi dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan
Dampak asap pekat tidak hanya menghentikan kegiatan belajar tatap muka, tetapi juga melumpuhkan sektor transportasi. Di perairan Sungai Musi, kapal jukung pengangkut bahan pokok terpaksa menunda keberangkatan empat hingga lima jam akibat terbatasnya jarak pandang. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pun tak luput dari gangguan.
Menanggapi situasi ini, Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang telah menyiagakan rumah sakit dan penyediaan layanan kesehatan bagi pengidap ISPA. Meski demikian, warga berharap pemerintah daerah memperluas tindakan pencegahan darurat, termasuk pembagian masker secara masif kepada masyarakat.