Trump Tolak Proposal Iran, Blokade Hormuz Terus Berjalan

5 May 2026 14:44

Jakarta: Belum kunjung dipertemukannya kedua negara di Islamabad Pakistan, juga diiringi ketegangan inkonsistensi gencatan senjata. Penyampaian poin-poin yang diinginkan antara Amerika Serikat dan Iran, secara tidak langsung juga tidak lebih menjanjikan dan berbuah hasil. Lalu bagaimana perkembangannya? Kita cek faktanya sama-sama.


Harapan perundingan II


Memasuki bulan Mei, kita awali dengan rangkuman peristiwa yang berlangsung pada bulan April. Pada 12 April, kedua negara gagal untuk mencapai kesepakatan setelah selama 21 jam pernegosiasi antara Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance dan delegasi dengan Mohammad Bagher Ghalibaf dan delegasi.

Namun tidak berselang lama setelah pernyataan sikap tersebut, beberapa sumber internasional mengungkap adanya keterbukaan kedua negara untuk kembali melakukan negosiasi diplomatik. Dan ditambah lagi pada 21 April, Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, namun hingga waktu yang tidak ditentukan. Tetapi faktanya, ketegangan terjadi di Selat Hormuz. Amerika Serikat mengatakan blokade Selat Hormuz oleh tentara Angkatan Laut Amerika Serikat akan berlanjut bahkan di masa gencatan senjata. Sedangkan IRGC juga mengungkap pasukan mereka  akan tetap mempertahankan wilayah Hormuz sebagai teritori negara mereka. Nah karena akhirnya ketegangan Hormuz masih berlangsung, kedua negara ini tidak menunjukkan intensi dan gestur positif untuk mau menempuh diskusi lagi di Islamabad walaupun Pakistan tetap menjadi mediator.

Semisal salah satu ungkapan yang dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, bahwa Amerika Serikat ogah menempuh perjalanan belasan jam untuk bernegosiasi dengan poin yang diakhiri sulit untuk disepakati. Dan lebih baik bertemu atau berdiskusi via telepon saja. Tentu ini merupakan sebuah gestur yang menunjukkan bahwa poin untuk pertemuan secara langsung ini bukan hal yang diindahkan baik oleh Amerika Serikat. 

Setelah menyampaikan pernyataan tersebut, di sisi lain Iran juga belum menyatakan ingin melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat. Maka salah satu hal yang ditempuh oleh Iran adalah kembali pada keputusan 30 Maret lalu, di mana Kementerian Luar Negeri Iran telah resmi mengakui Pakistan sebagai perantara  dan semua bentuk komunikasi Iran kepada Amerika Serikat akan melalui Pakistan. Melalui mekanisme ini, menjadi tantangan karena Donald Trump gemar bermedia sosial dan bersikap di media sosial.

Peran Pakistan dan proposal Iran


Lebih lanjut dalam kunjungan luar negeri singkat Iran pada 25 hingga 27 April lalu, Iran mengunjungi Pakistan, Oman, dan Rusia. Bahkan secara khusus, Iran berkunjung 2 kali ke Islamabad yaitu pada 25 dan 27 untuk membahas konflik yang berlangsung dengan Amerika Serikat. Sehingga proposal perdamaian terbaru yang dititipkan oleh Iran kepada Pakistan sebenarnya tidak ada poin yang baru.

Yang artinya menunjukkan konsistensi sikap tidak melunak pada tekanan Amerika Serikat. Di antaranya adalah pembukaan kembali selat Hormuz sebagai prasyarat awal. Gencatan senjata jangka panjang atau permanen, pembicaraan nuklir ditunda sehingga selat dibuka dan juga pembatasan dicabut, dan pembacabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Intinya kalau kita lihat, Iran meminta Amerika Serikat menarik diri dan tidak menyerang, baru Hormuz dan nuklir bisa dibicarakan. Dan lebih lanjut juga respons yang disampaikan oleh pemerintah Iran dalam kaitannya pada peran Pakistan dan juga keberadaan Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam salah satu pernyataan di wawancara media juga bersikap dengan mengapresiasi peran Pakistan. Namun juga menegaskan bahwa kendalanya ini berada di Amerika Serikat.


Alasan Trump bersikeras blokade Hormuz


Yang menjadi pertanyaan kenapa Amerika Serikat bersikeras dengan melanjutkan blokade Hormuz di tengah gencatan senjata. Karena bagi Presiden Amerika Serikat dan juga tim keamanan nasionalnya, isu nuklir adalah prioritas utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum langkah lain diambil. Termasuk pencabutan sanksi ataupun penarikan pasukan.

Karena Washington terlihat menolak untuk melanjutkan pembicaraan tanpa komitmen yang jelas dari Iran terkait dengan pembatasan program nuklirnya. Lalu lebih lanjut Amerika Serikat juga tentu menilai bahwa Selat Hormuz ini adalah medan konflik yang lebih berpengaruh untuk menekan Iran. Karena tidak hanya berpengaruh terhadap 20% pasokan energi dunia, tetapi Selat Hormuz juga salah satu jalur perdagangan yang berkontribusi besar bagi pemasukan Iran.

Berdasarkan riset kami, 90% ekspor minyak Iran diekspor melalui Pulau Kharq menuju ke Selat Hormuz. Dan dari kalkulasi sebelum perang dengan Amerika Serikat, aktivitas preekonomian dari ekspor minyak di Hormuz  bisa sebesar USD115 juta per hari atau USD3,45 miliar per bulan. Maka blokade Hormuz diyakini akan berdampak kepada logistik Iran dalam konflik ini.

Dan itulah tadi fakta-fakta seputar proposal baru Iran yang ditolak oleh Amerika Serikat. Maka dalam situasi yang menunjukkan kedua pihak sama-sama bersikeras dengan poin proposalnya, tantangan saat ini berada di Pakistan sebagai mediator kedua negara. Tetapi penantian terhadap perundingan kedua harus berlandaskan kepada komitmen kepercayaan dan keyakinan melanjutkan perang ini adalah kebuntuan yang saling merugikan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)