Jakarta: Perkembangan dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) telah menjadi fenomena yang umum. Mayoritas masyarakat kini sudah tidak asing dengan pemanfaatan AI untuk kebutuhan informasi, ide, dan sebagainya.
Namun, dominasi penggunaan dan keberadaan AI di internet, terutama di media sosial yang semakin pesat tanpa disadari mayoritas pengguna, memicu munculnya konten massal hasil AI. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kini semakin sulit membedakan konten yang dihasilkan manusia atau hasil generatif AI. Akibatnya, sejak sekitar tahun 2016, muncul teori Dead Internet Theory.
Apa itu Dead Internet Theory?
Melansir laman
The Conversation, Dead Internet Theory merupakan sebuah teori konspirasi yang menyebut bahwa mayoritas konten dan aktivitas di internet telah didominasi oleh agen-agen bot AI, hingga melampaui jumlah pengguna manusia. Agen-agen AI ini secara rutin membuat unggahan dan konten yang dirancang untuk
engagement farming, yaitu konten dengan tujuan memperoleh klik, like, dan komentar dalam jumlah besar dalam waktu singkat di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, X, ataupun Facebook.
Dead Internet Theory tidak bertujuan menyatakan bahwa semua hal yang beredar di internet adalah palsu. Namun, teori ini menjadi sudut pandang yang mengingatkan pentingnya pemikiran kritis dalam menavigasi media sosial maupun internet secara umum, seiring pesatnya perkembangan AI yang mulai menjadi faktor dominan dalam dunia digital.
Efek Negatif Dominasi AI di Media Sosial
Fenomena beredarnya akun-akun bot AI di berbagai platform media sosial yang digunakan masyarakat berdampak pada meningkatnya penyebaran misinformasi atau hoaks. Hal ini mencakup isu-isu yang dapat mempengaruhi opini publik secara signifikan tanpa sumber yang terpercaya.
Selain itu, muncul pula ketergantungan yang semakin tinggi terhadap AI dalam dunia digital, mulai dari pembentukan ide, kreativitas, hingga penggunaan AI tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi juga untuk menghasilkan konten secara keseluruhan. Contohnya, penggunaan AI untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan tanpa melakukan verifikasi ulang terhadap sumber atau informasi yang diberikan. Ketergantungan terhadap AI, terutama tanpa disertai pemikiran kritis, berpotensi menimbulkan dampak yang berbahaya.
Melansir
Nature.com, pada 2018 dilakukan studi dengan menganalisis total 14 juta unggahan di platform media sosial X selama periode 2017–2018 dalam kurun waktu sepuluh bulan. Studi tersebut mengungkap tingginya jumlah akun bot yang menyebarkan artikel dari sumber tidak terpercaya. Akun-akun tersebut juga memiliki jumlah pengikut yang besar, sehingga terlihat kredibel dan membuat konten hoaks semakin luas tersebar.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Odetta Aisha Amrullah)