Berebut Tempat Penampungan, Migran Afrika Terpaksa Gelar Undian

19 August 2026 12:06

Kelompok migran asal Afrika di wilayah Ceuta, Spanyol, terpaksa menggelar undian untuk menentukan siapa yang berkesempatan mendaftar di pusat pernampungan. Langkah ekstrem ini diambil, karena pusat penerimaan migran di Ceuta sudah kelebihan kapasitas. Pusat penampungan imigran temporer di Ceuta hanya mampu menampung sebanyak 512 orang.

Kondisi ini terjadi setelah adanya gelombang penyeberangan besar-besaran dari Maroko pada akhir Juli lalu. Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 80 ribu orang sempat memasuki wilayah Ceuta. 

Ratusan migran ini bahkan terpaksa tidur di luar pusat penampungan, termasuk di sejumlah pantai terdekat. Sebelumnya, pemerintah Spanyol telah menyiapkan empat lokasi penampungan sementara dengan kapasitas tambahan sekitar 1.500 orang. 

Besar kemungkinan jika imigran ini dikembalikan ke Maroko, namun ribuan orang masih bertahan di Ceuta sambil menunggu proses suaka dan juga imigrasi.

Sebelumnya, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut kedatangan ribuan migran dari Maroko ke Ceuta dihitung sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol.

Krisis tersebut juga memicu perbedaan pandangan di Uni Eropa. Italia mengumumkan penangguhan sementara penerapan aturan kawasan bebas perbatasan Schengen untuk perjalanan udara dan laut dari Spanyol.

Pemerintah Spanyol menilai langkah tersebut bertentangan dengan perjanjian Uni Eropa.

Partai-partai sayap kanan di sejumlah negara Eropa menyalahkan kebijakan migrasi Spanyol yang dinilai lebih longgar, termasuk program amnesti bagi ratusan ribu migran pada tahun ini.

Pemerintah Spanyol juga memanggil Duta Besar Italia sebagai bentuk protes setelah Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan kebijakan amnesti Spanyol telah "mendorong perdagangan manusia."

Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika.

Kedua wilayah tersebut kerap menjadi tujuan migran yang ingin memasuki Eropa, meski skala gelombang migrasi kali ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

(Lutfia Azzahra)

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X