10 September 2026 23:07
Tiga pekan pascagempa bumi yang mengguncang Flores, sejumlah warga pesisir di Desa Nagadero, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda-tenda darurat. Warga terpaksa menempati tenda lantaran rumah tinggal mereka mengalami rusak berat sehingga tidak dapat dihuni kembali.
Keterbatasan ekonomi membuat warga tidak mampu membangun kembali rumah mereka secara mandiri. Keberadaan hunian sementara (huntara) kini sangat dinantikan warga sebagai tempat berteduh sekaligus sarana untuk memulihkan rasa aman pascabencana.
"Masih trauma, jadi mudah-mudahan mungkin bisa tolong diperhatikan dengan keadaan kami punya rumah. Mungkin ada bantuan sedikitlah dari pemerintah, karena yang jelas kami punya rumah tidak bisa difungsikan lagi, walaupun bisa tapi tidak seperti biasanya," ungkap warga Nangadhero, Badrus dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 10 September 2026.
Merespons kebutuhan tersebut, Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Marsda TNI (Purn.) Oka Prawira mengonfirmasi bahwa pembangunan huntara diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat, sembari menunggu proses pembangunan hunian tetap. Pemilihan lokasi huntara akan mempertimbangkan ketersediaan lahan yang strategis dan memungkinkan untuk kawasan permukiman.
"Kita buat sebagai contoh. Nah, untuk yang tempat contoh itu tentunya letaknya yang kediamannya mengalami rusak berat dan di sebelahnya ada lahan untuk didirikan rumah Huntara dengan spek yang sudah ada, serta tempatnya strategis di mana masyarakat lain bisa melihat, meninjau, mengamati," ucap Oka.