Di Balik Api yang Padam, Ada Nyawa yang Dipertaruhkan

Metro TV • 25 October 2026 13:09

Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia menuntut pengerahan puluhan ribu personel dan dukungan puluhan pesawat udara. Namun, di balik upaya memadamkan api, para petugas menghadapi risiko besar, mulai dari medan ekstrem, kepungan asap, hingga ancaman terjebak dalam kobaran api.

Sejumlah petugas dan relawan bahkan kehilangan nyawa saat menjalankan tugasnya. Data yang dihimpun dalam bahan ini mencatat pengerahan 54.394 personel dan 64 pesawat udara untuk penanganan karhutla secara nasional.

Dari jumlah personel tersebut, 33.106 bertugas di Sumatera, 12.880 di Kalimantan, dan 742 di kawasan Gunung Ciremai. Angka tersebut perlu dipastikan kembali periode serta cakupan operasinya.

Di Pulau Jawa, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan gunung, termasuk Ciremai, Lawu, Sumbing, Bromo, Arjuno-Welirang, Argopuro, dan Pakuwaja. Luas area terdampak yang dicantumkan dalam bahan mencapai sekitar 30 hektare di Gunung Ciremai dan sekitar 800 hektare di kawasan Lawu dan Sumbing.
 

 

Medan Ekstrem Membuat Pemadaman Tidak Mudah

Memadamkan kebakaran di kawasan pegunungan dan lahan gambut memiliki tantangan yang berbeda. Di lereng gunung, petugas harus berhadapan dengan medan terjal, angin kencang, serta kabut asap yang dapat menghambat pergerakan dan proses evakuasi.

Sementara itu, kebakaran di lahan gambut memiliki persoalan tersendiri. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat meskipun bagian atas lahan tampak sudah padam. Sumber api yang tersembunyi membuat proses pemeriksaan dan pendinginan membutuhkan perhatian ekstra.

Kondisi kemarau yang menyebabkan sumber air terbatas juga dapat memperberat upaya pemadaman di lahan gambut. Petugas harus memastikan bara tidak kembali menyala setelah api di permukaan berhasil dikendalikan.

Selain kondisi alam, keterbatasan logistik menjadi tantangan lain. Pasokan air, peralatan pelindung, serta ketersediaan personel pengganti dibutuhkan untuk mendukung operasi yang dapat berlangsung selama berjam-jam, bahkan siang dan malam.

Di tengah upaya mengendalikan api, keselamatan petugas turut menjadi perhatian. Sejumlah risiko yang mereka hadapi meliputi:
  • Terjebak kobaran api. Perubahan arah angin secara tiba-tiba dapat membuat api menyebar ke area tempat petugas berada.
  • Terpapar asap berbahaya. Kepulan asap dapat mengganggu pernapasan dan meningkatkan risiko paparan karbon monoksida.
  • Kelelahan fisik. Pemadaman di medan sulit menuntut tenaga besar, terlebih ketika petugas harus bekerja dalam waktu lama tanpa akses kendaraan.
  • Keterbatasan logistik. Minimnya suplai air, alat pelindung, dan personel pengganti dapat menambah beban operasi.
Risiko tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pemadaman tidak hanya bergantung pada kemampuan mengendalikan api. Keselamatan personel, kecukupan perlengkapan, dan kesiapan evakuasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

Petugas Gugur Saat Berupaya Memadamkan Api

Salah satu peristiwa yang dicatat dalam bahan terjadi di kawasan Gunung Bromo pada Oktober. Api pertama kali dilaporkan pada 13 Oktober dan sempat dipadamkan sehari kemudian. Namun, asap kembali terlihat pada pagi 15 Oktober setelah angin kencang bertiup.

Dalam rangkaian kejadian tersebut, enam personel dilaporkan terjebak kobaran api sekitar pukul 13.00 pada 15 Oktober. Empat orang meninggal di lokasi, sementara dua lainnya meninggal setelah menjalani perawatan akibat luka bakar berat pada 19 dan 23 Oktober.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tugas pemadaman bukan pekerjaan tanpa risiko. Petugas harus bergerak di tengah kondisi yang dapat berubah cepat, sementara upaya menyelamatkan kawasan hutan dan lingkungan tetap harus berjalan dengan memperhatikan keselamatan manusia.
 

Nama-nama petugas dan relawan yang gugur saat menangani kebakaran di Kalimantan dan kawasan Bromo, yaitu:

Korban di Kalimantan:
  1. Akhamd Rizani (54), Ketua Tim Serbu Api, gugur pada 27 Agustus.
  2. Ahmadin (56), relawan pemadam kebakaran, gugur pada 30 Agustus.
  3. Aries Sutio (30), relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), gugur pada 10 September.
  4. Luthfil Hadi (30), relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), gugur pada 10 September.
  5. Nurdin (51), anggota BPK, gugur pada 21 Oktober.
  6. Suraji (44), relawan/sekuriti, gugur pada 23 Oktober.
Korban di kawasan Gunung Bromo:
  1. Sukaris (55), operator Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), gugur pada 15 Oktober.
  2. Hendra Rony Wagiyanata (25), Manggala Agni, gugur pada 15 Oktober.
  3. Wisnu Yuda Pratama (25), relawan/sekuriti, gugur pada 15 Oktober.
  4. Sefriel Ardiyansyah (19), relawan/sekuriti, gugur pada 15 Oktober.
  5. Munawi (44), anggota Masyarakat Mitra Polhut, gugur pada 19 Oktober.
Setiap nama merepresentasikan seseorang yang terlibat dalam upaya menghadapi kebakaran. Karena itu, pendataan korban perlu dilakukan secara cermat agar identitas, peran, waktu kejadian, dan kronologi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.

Besarnya pengerahan personel menunjukkan skala upaya yang dibutuhkan untuk menangani karhutla. Namun, upaya tersebut juga perlu diiringi dengan perlindungan yang memadai bagi petugas dan relawan, termasuk ketersediaan alat pelindung, pasokan air, dukungan logistik, prosedur evakuasi, serta personel cadangan.

Masyarakat juga memiliki peran dalam mencegah kebakaran baru. Menghindari pembakaran lahan, tidak membuang sumber api sembarangan, dan melaporkan titik api sejak dini dapat membantu mengurangi risiko kebakaran meluas.

Mengingat nama-nama petugas yang gugur berarti mengakui pengorbanan mereka. Memastikan petugas yang masih bekerja mendapat perlindungan yang layak, mendukung posko bantuan terpercaya, dan mencegah kebakaran sejak awal merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X