Darurat Sampah Plastik! Ini Negara-Negara yang Paling Terdampak

17 June 2026 13:17

Jakarta: Hampir setiap hari manusia menggunakan plastik, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, hingga kantong belanja. Sayangnya, kemudahan tersebut juga melahirkan masalah besar.

Ketika sampah plastik tidak dikelola dengan baik, limbahnya dapat mencemari sungai, laut, tanah, bahkan masuk ke rantai makanan manusia dalam bentuk mikroplastik. Tak heran jika polusi plastik kini menjadi salah satu ancaman lingkungan terbesar di dunia.

Produksi plastik global terus meningkat setiap tahun, sementara kemampuan pengelolaan dan daur ulang limbah di banyak negara masih tertinggal. Akibatnya, jutaan ton sampah plastik berakhir di tempat pembuangan terbuka, sungai, hingga lautan.
 



Melansir Wionews, dunia menghasilkan sekitar 353 hingga 357 juta ton sampah plastik setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 46 persen berakhir di tempat pembuangan akhir, 22 persen tidak terkelola atau dibakar secara terbuka, 17 persen dimusnahkan melalui insinerasi, dan kurang dari 9 persen yang benar-benar didaur ulang.

Sementara itu, laporan The Guardian menunjukkan bahwa sampah plastik yang berkaitan dengan makanan dan minuman ditemukan di 93 persen lokasi pesisir yang diteliti di berbagai negara. Temuan tersebut menegaskan bahwa plastik sekali pakai masih menjadi kontributor utama pencemaran lingkungan global.

Negara-Negara yang Paling Terdampak Darurat Sampah Plastik

Berdasarkan data Wionews dan World Population Review, berikut sejumlah negara yang menghadapi krisis sampah plastik paling serius di dunia.

1. India

India menjadi salah satu negara penghasil limbah plastik terbesar di dunia. Negara ini menghasilkan lebih dari 3,4 juta ton sampah plastik setiap tahun dan memiliki tingkat risiko pengelolaan limbah yang tinggi.

Besarnya jumlah penduduk, tingginya konsumsi plastik sekali pakai, serta keterbatasan infrastruktur daur ulang menjadi tantangan utama. Selain itu, pencemaran mikroplastik juga semakin banyak ditemukan di sistem sungai besar, termasuk Sungai Gangga. India tercatat memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 69,61 persen.

2. Pakistan

Pakistan menghasilkan lebih dari 3,3 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebagian besar limbah tersebut berakhir di tempat pembuangan terbuka maupun badan air karena sistem pengelolaan sampah yang belum terintegrasi secara optimal.

Lemahnya penegakan aturan terkait penggunaan plastik sekali pakai turut memperburuk kondisi pencemaran lingkungan di negara tersebut. Pakistan memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 87,81 persen.

3. Nigeria

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Afrika, Nigeria menghasilkan sekitar 2,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.

Kota-kota besar seperti Lagos menghadapi masalah serius berupa saluran drainase yang tersumbat sampah plastik. Kondisi tersebut sering memicu banjir perkotaan, terutama saat musim hujan. Minimnya fasilitas daur ulang modern juga menjadi tantangan dalam pengelolaan limbah plastik. Nigeria memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 89,09 persen.

4. Bangladesh

Bangladesh tercatat sebagai negara pertama yang melarang penggunaan kantong plastik tipis pada 2002. Namun, tantangan dalam implementasi dan pengawasan membuat pencemaran plastik masih menjadi persoalan besar.

Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik banyak ditemukan di kawasan delta sungai dan wilayah pesisir, sehingga mengancam ekosistem perairan serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut. Bangladesh memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 83,48 persen.

5. Rusia

Rusia juga masuk dalam daftar negara dengan tingkat pengelolaan limbah plastik yang masih menjadi tantangan besar. Selama bertahun-tahun, negara ini lebih mengandalkan tempat pembuangan sampah skala besar dibandingkan sistem daur ulang modern.

Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah turut memperlambat upaya pengurangan limbah plastik. Rusia memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 67,45 persen.

6. Ethiopia

Ethiopia mencatat salah satu tingkat risiko pengelolaan sampah tertinggi dalam daftar ini. Pertumbuhan kota yang sangat cepat, terutama di ibu kota Addis Ababa, membuat kapasitas pengelolaan limbah tidak mampu mengimbangi peningkatan jumlah sampah.

Akibatnya, sebagian besar limbah plastik tidak terkumpul atau tidak dikelola dengan baik sehingga mencemari tanah dan lingkungan sekitar. Ethiopia memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 94,19 persen.

7. Mesir

Mesir dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi plastik terbesar di kawasan Mediterania. Negara ini menghasilkan sekitar 5,4 juta ton sampah padat setiap tahun, dengan plastik menjadi salah satu komponen terbesar.

Pencemaran plastik di wilayah pesisir berdampak pada sektor pariwisata sekaligus mengancam keanekaragaman hayati laut di Laut Merah dan Laut Mediterania. Mesir memiliki indeks pengelolaan sampah yang buruk sebesar 86,86 persen.
   

Ancaman Global yang Terus Meningkat

Menurut perkiraan International Union for Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 juta ton diperkirakan masuk ke lautan setiap tahunnya.

Polusi plastik tidak hanya mengancam satwa liar dan ekosistem laut, tetapi juga berdampak pada kesehatan manusia, ekonomi, serta kualitas lingkungan secara keseluruhan. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik kini telah ditemukan di sungai, laut, tanah, bahkan dalam rantai makanan manusia.

Nah, kondisi ini menunjukkan bahwa krisis sampah plastik bukan hanya persoalan satu negara, melainkan tantangan global yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta memperkuat sistem pengelolaan dan daur ulang limbah menjadi langkah penting untuk menekan dampak pencemaran di masa depan.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Jessica Nur Faddilah)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)