Di tengah tantangan geografis yang ekstrem dan keterbatasan akses, pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Namun, kolaborasi antara organisasi kemanusiaan, pemerintah daerah, dan lembaga keagamaan kini mulai membuka jalan bagi keberlangsungan hidup yang lebih layak.
Inovasi Kebun Apung di Tanah Rawa
Kondisi tanah Asmat yang didominasi rawa dan lumpur membuat aktivitas bercocok tanam konvensional sulit dilakukan. Menanggapi hal ini, Wahana Visi Indonesia (WVI) menginisiasi program Kebun Gizi Apung. Melalui sarana ini, warga diajarkan menanam berbagai jenis sayuran seperti sawi, kangkung, dan terong di atas media kayu yang terapung.
Afdon, salah satu warga setempat, mengakui bahwa sebelum adanya kebun gizi ini, warga harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota atau distrik hanya untuk membeli
sayuran.
"Dulu setengah mati sekali, harus cari ke kabupaten atau distrik. Butuh waktu jauh, biaya, dan tenaga. Dengan bantuan kebun gizi ini, sangat membantu sekali," kata Afdon dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 16 Agustus 2026.
Meningkatkan Semangat Belajar melalui School Feeding
Persoalan gizi buruk di masa lalu berdampak langsung pada kualitas pendidikan anak-anak Asmat. Banyak siswa yang datang ke sekolah tanpa asupan makanan yang cukup, sehingga mereka kehilangan semangat belajar.
Untuk mengatasinya, dijalankan program School Feeding (pemberian makanan di sekolah) sebanyak tiga kali seminggu. Hasilnya mulai terlihat signifikan. Heronimus, seorang guru di salah satu SD di Asmat, menyatakan ada perubahan besar pada anak-anak.
"Dulu anak-anak gizi buruk tidak semangat ke sekolah. Sekarang, pertumbuhan anak-anak bagus sekali dibandingkan awal-awal," ujar Heronimus.
Senada dengan gurunya, Perpetua, seorang siswi kelas 6, merasa senang dengan adanya makanan bergizi di sekolah. Ia menyebutkan menu favoritnya seperti ayam kecap dan sayuran sebagai penyemangat harinya di sekolah.
Dampak Ekonomi bagi Keluarga
Program ketahanan pangan ini tidak hanya berhenti pada konsumsi pribadi. Hasil dari kebun gizi apung juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Andreas, seorang warga lainnya, menceritakan bagaimana ia menjual kelebihan hasil panennya ke pasar.
"Kalau kangkung satu ikat sepuluh ribu. Pernah jual terong dan dapat untung sampai tiga ratus ribu rupiah. Separuh untuk dijual, separuh untuk kami makan sendiri," kata Andreas.
Kolaborasi Lintas Sektor
Sekretaris Daerah Kabupaten Asmat, Absalom Amiyaram, mengapresiasi sinergi antara WVI dan pemerintah daerah. Menurutnya, kolaborasi ini sangat penting mengingat luasnya wilayah dan sulitnya medan yang harus dihadapi.
Selain pemerintah, lembaga keagamaan seperti Keuskupan Agats juga turut ambil bagian. Valens Aji Sayekti, Ketua Komisi PSE Keuskupan Agats, menekankan pentingnya komitmen bersama. "Medan geografis cukup menantang, ditambah pasang surut air laut. Butuh kolaborasi antara pemerintah, NGO, lembaga keagamaan, dan lembaga adat untuk melihat perubahan secara bertahap," jelasnya.
Harapan Kemandirian di Masa Depan
Tujuan jangka panjang dari berbagai program ini adalah kemandirian masyarakat. Sabtarina Febriyanti, Zone Program Manager WVI Indonesia Timur, menjelaskan bahwa pihaknya fokus pada edukasi pengelolaan ekonomi rumah tangga.
"Kita ingin ketika WVI sudah tidak ada, masyarakat bisa mandiri. Mereka diajarkan mengatur keuangan, menyisihkan uang hasil panen untuk membeli bibit lagi, dan terus berkelanjutan," pungkas Sabtarina.
Perjalanan menuju
ketahanan pangan di Asmat memang tidak singkat. Namun, dengan tumbuhnya kebun-kebun apung dan terpenuhinya gizi anak-anak, harapan untuk masa depan Papua yang lebih sejahtera kini bukan lagi sekadar impian.