ERUPSI sejumlah gunung api di Indonesia dalam waktu berdekatan belakangan ini memunculkan beragam spekulasi. Ada yang mengaitkannya dengan gempa bumi di belahan dunia lain. Bahkan, ada yang menuding fenomena itu sebagai akibat rekayasa teknologi atau senjata tertentu.
Spekulasi semacam itu boleh saja lahir di ruang percakapan publik. Namun, jangan sampai ia mengalahkan akal sehat, ilmu pengetahuan, dan fakta.
Indonesia memang sedang menyaksikan peningkatan aktivitas sejumlah gunung api dalam periode Agustus hingga awal September.
Anak Krakatau, Sinabung, Semeru, Ibu, Lewotobi Laki-Laki, dan Ili Lewotolok tercatat mengalami aktivitas erupsi dalam rentang waktu berdekatan. Meski demikian, bersamaan secara waktu tidak otomatis berarti berhubungan secara sebab-akibat.
Sejumlah pakar kegempaan dan mitigasi bencana sudah menegaskan fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai kebetulan spasial dan temporal. Penjelasan itu sangat masuk akal mengingat Indonesia berada di kawasan tektonik sangat aktif dan memiliki lebih dari 100 gunung api aktif.
Begitu pula dengan teori yang menghubungkan erupsi dengan High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP. HAARP memang nyata. Fasilitas penelitian di Alaska itu digunakan untuk mempelajari ionosfer. Namun, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan teknologi tersebut mampu menciptakan gempa bumi, apalagi memerintah dapur magma ribuan kilometer jauhnya untuk memuntahkan isinya.
Karena itu, kita semestinya tidak membuang energi untuk mengejar teori konspirasi ketika ancaman nyata berada di depan mata. Erupsi gunung api adalah keniscayaan bagi negeri yang berada di kawasan Ring of Fire. Yang tidak boleh menjadi keniscayaan ialah ketidaksiapan menghadapinya.
Pemerintah pusat dan daerah mesti memastikan sistem peringatan dini berfungsi, jalur dan tempat evakuasi tersedia, logistik mencukupi, petugas siap, serta masyarakat memahami apa yang harus dilakukan ketika status gunung meningkat. Informasi kebencanaan pun harus cepat, akurat, dan mampu membendung hoaks yang justru dapat menimbulkan kepanikan.
Lebih dari itu, kesiapan anggaran penanggulangan bencana harus diperkuat. Bila eskalasi bencana menuntut tambahan anggaran, pemerintah jangan ragu menyediakannya.
Dengan demikian, kita patut mengapresiasi sekaligus mendukung total langkah Presiden Prabowo Subianto yang baru saja menginstruksikan penambahan anggaran untuk mitigasi dampak bencana. Menurut Presiden, berada di Cincin Api Pasifik mengharuskan Indonesia punya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Efisiensi anggaran tidak boleh menggerus kemampuan negara melindungi keselamatan rakyat. Bencana tidak dapat dicegah seluruhnya. Namun, korban dan kerugian dapat diminimalkan melalui mitigasi yang baik.
Jadi, berhentilah sibuk mencari tangan-tangan misterius di balik erupsi. Lebih baik kita memastikan tangan negara, pemerintah daerah, ilmuwan, dan masyarakat bergandengan menghadapi bencana.
Dalam urusan keselamatan manusia, ilmu pengetahuan harus memimpin. Kesiapsiagaan harus mengalahkan kecurigaan.