Meletusnya Akal Sehat

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

Podium Media Indonesia

Meletusnya Akal Sehat

Media Indonesia • 10 September 2026 05:22

ADA kalanya kita dibuat tercengang bukan oleh bencana alam, melainkan oleh cara sebagian orang menjelaskan bencana itu. Gunung meletus murni kuasa alam. Akan tetapi, ketika ia kemudian dikaitkan dengan HAARP, pertemuan Presiden dengan pemimpin negara lain, bahkan dicurigai sebagai ulah asing, pertanyaan yang muncul bukan lagi siapa yang menyebabkan gunung meletus. Pertanyaan yang lebih mendasar justru ke mana perginya akal sehat?

Itulah yang mengemuka di ruang publik hari-hari ini. Adalah Ulta Levenia Nababan yang memantiknya. Ulta bukan anak muda sembarangan. Ia merupakan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden atau KSP. Latar pendidikannya mentereng. Ia lulusan UI dan menuntaskan master of arts security, terrorism, insurgency di University of Leeds, Inggris. Ulta aktif sebagai peneliti sebelum masuk jajaran pemerintahan.

Pernyataannya yang mengaitkan erupsi enam gunung di Tanah Air dalam kurun bersamaan dengan HAARP sungguh mengundang keprihatinan. HAARP atau High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) ialah riset ilmiah di Gakona, Alaska, yang mempelajari sifat dan perilaku ionosfer bumi. Ia bukan alat pengendali cuaca atau pemicu bencana alam. Jadi, aneh, sangat aneh, kalau ada yang berspekulasi bahwa ia biang meletusnya sejumlah gunung di Indonesia belakangan ini.

Apalagi, Ulta sendiri mengakui pandangan itu tidak didukung bukti yang kredibel. Ia menyadari pula pemikirannya dapat dianggap sebagai teori konspirasi. Katanya skeptis. Namun, skeptis bukan berarti mencurigai apa saja. Skeptis bertanya dengan data.

Kalau peristiwa yang waktunya berdekatan boleh dijadikan dasar untuk mencari kambing hitam, kacau dunia ini. Presiden bertemu Putin kemudian gunung-gunung erupsi. Apakah keduanya berhubungan? Jika akal sehat yang bicara, jelas tidak.

Yang lebih mengherankan, teori konspirasi tersebut datang dari gedung pemerintahan. Dalam celotehan di warung kopi saja tetap sulit masuk logika, apalagi ini dari lingkungan istana. Ulta memang bilang itu pandangan pribadi. Benar, tiap orang berhak punya pendapat. Bebas. Akan tetapi, jabatan publik punya konsekuensi lain.

Sebagai pejabat, sebagai orang yang bekerja dengan bayaran uang rakyat, setiap ucapan akan dibaca publik dalam konteks jabatan yang melekat dalam dirinya. Kalimat 'ini pendapat pribadi' tidak otomatis menghapus dampaknya.

Setiap laku pejabat memiliki tanggungjawab publik. Apalagi tatkala yang dibicarakan bencana. Di tengah kecemasan, masyarakat butuh informasi yang menenangkan, yang akurat, dan dapat diverifikasi. Bukan teori bahwa HAARP dapat mengendalikan gunung api dari kejauhan. Bukan akibat pertemuan Presiden dengan pemimpin negara lain. Yang masuk akal.

Pemerintah kiranya sedang membangun kepercayaan publik. Terkait dengan gunung api, Indonesia punya Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ada PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Ada banyak vulkanolog dan ahli kegunungapian yang setiap hari membersamai gunung api. Pijakan mereka data dan parameter ilmu pengetahuan. Tidak mengarang. Tak berkonspirasi.

Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Foto: Antara/HO-Humas Kementerian ESDM

Merekalah yang seharusnya menjadi rujukan. Bukan teori yang bahkan pembuatnya sendiri mengaku tidak punya bukti ilmiah. Badan Geologi jelas dan tegas menyatakan fenomena peningkatan aktivitas sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan tidak berarti berhubungan. Gunung-gunung itu tidak janjian. Dalam perspektif keilmuan, mereka bukan wayang yang digerakkan sang dalang.

Yang juga berbahaya ialah cara berpikir sedikit-sedikit ulah asing. Curiga boleh, asal curiga jangan. Begitu kata 'asing' dimunculkan, imajinasi publik bisa bergerak liar. Ada negara yang dituduh. Ada teknologi rahasia. Ada operasi tersembunyi. Ada kepentingan geopolitik. Padahal, pengetahuan bilang, gunung api murni fenomena alam.

Pemerintah bukanlah laboratorium teori konspirasi. Pemerintah semestinya berdiri di atas data tepercaya. Kritik terhadap pernyataan bahwa kemungkinan ada persengkongkolan terkait dengan meletusnya sejumlah gunung bukan berarti antikebebasan berpikir. Justru sebaliknya, kita sedang membela akal sehat. Kita sedang mengingatkan bahwa skeptisisme harus berjalan bersama akal sehat.

Banyak contoh negara babak belur akibat termakan oleh teori konspirasi. Afrika Selatan contohnya. Pada 2000-an, Presiden Thabo Mbeki terhasut oleh teori konspirasi asing bahwa virus HIV bukanlah penyebab AIDS, melainkan hanya propaganda Barat dan perusahaan farmasi multinasional untuk menjual obat-obatan beracun. Ia pun menolak bantuan obat antiretroviral gratis dari dunia internasional. Apa akibatnya? Lebih dari 330 ribu penderita mengalami kematian dini dan ribuan bayi yang lahir terpapar oleh HIV dari ibu mereka.

Contoh lain, pada 2002, Zambia dilanda kekeringan hebat dan 3 juta penduduk terancam oleh kelaparan. AS dan Barat menawarkan bantuan ribuan ton jagung, tapi kelompok aktivis setempat menyebarkan teori konspirasi bahwa makanan itu hasil modifikasi genetika yang sengaja dirancang untuk membuat rakyat Afrika mandul. Presiden Levy Mwanawasa termakan oleh teori itu dan menolak bantuan. Akibatnya, jutaan rakyat kelaparan akut.

Kembali ke perkara Ulta, pejabat pemerintah seharusnya menjadi bagian dari solusi, bukan kegaduhan informasi. Ketika gunung-gunung meletus, yang harus kita dengarkan pertama-tama ialah para ahli vulkanologi. Bukan mereka yang kata netizen sibuk memfitnah alam.

(Siti Yona Hukmana)