Deny Irwanto • 9 September 2026 20:13
Pandeglang: Niat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau berubah menjadi operasi pencarian. Lima jurnalis bersama tiga orang lainnya dilaporkan hilang kontak setelah bertolak menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuju perairan Selat Sunda pada Senin, 7 September 2026.
Rombongan berangkat sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Salah seorang jurnalis kemudian sempat mengirimkan share location kepada rekan jurnalis di Lampung sekitar pukul 14.42 WIB.
Namun, komunikasi dengan rombongan tersebut kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Hingga Rabu, 9 September 2026, keberadaan delapan orang dalam rombongan tersebut masih belum diketahui.
Berdasarkan informasi dari Basarnas dan kepolisian, rangkaian kejadian tersebut berlangsung dalam waktu relatif singkat:
Lima jurnalis yang telah teridentifikasi yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Untuk mencari keberadaan rombongan, tim gabungan mengerahkan unsur Basarnas, TNI-Polri, dan sejumlah unsur pendukung lainnya.
Pada hari pertama, sebanyak 23 personel dikerahkan, terdiri atas 16 personel Basarnas Banten, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dan dua personel KP Sanjaya Mabes Polri. Kapal Basarnas KN Tetuka juga dikerahkan menuju wilayah pencarian.
Memasuki hari kedua pada Rabu, 9 September 2026, area pencarian diperluas. Tim membagi operasi menjadi beberapa Search and Rescue Unit atau SRU untuk menyisir wilayah perairan yang lebih luas, termasuk kawasan sekitar Pulau Rakata hingga Pulau Panjang.
Hingga pembaruan terakhir, hasil pencarian masih nihil. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan seluruh unsur dan sarana yang tersedia terus dioptimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.
Kondisi di sekitar lokasi juga menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran abu vulkanik di wilayah perairan, sementara kondisi laut dan jarak pandang turut menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam operasi pencarian.
Bagi jurnalis, peliputan di wilayah rawan bencana memang memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan liputan pada umumnya. Informasi yang diperoleh dari lokasi sangat penting, tetapi keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum maupun selama berada di lapangan.
Nah, hilangnya lima jurnalis saat menjalankan tugas ini kembali mengingatkan bahwa keberanian untuk berada di garis depan informasi harus berjalan beriringan dengan kesiapan keselamatan. Di wilayah rawan bencana seperti kawasan Anak Krakatau, setiap keputusan di lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan tugas jurnalistik tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan manusia.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)