Fenomena Tanah Bergerak Terjadi di Tegal, Apa Penyebabnya?

14 February 2026 09:35

Jakarta: Fenomena tanah bergerak mengguncang Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Sebanyak 863 rumah terdampak dan 2.416 warga mengungsi akibat pergerakan tanah yang dipicu hujan ekstrem dan kondisi geologi labil. 

Pemerintah menetapkan status tanggap darurat serta menyiapkan relokasi dengan hunian sementara teknologi RISHA. Warga diminta tetap waspada karena tanah masih aktif bergerak.


Kronologi


Fenomena tanah bergerak terjadi di Desa Padasari pada 2 Februari 2026, lalu setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Curah hujan dengan intensitas tinggi membuat kondisi tanah menjadi labil. 

Warga menyatakan bahwa tanda-tanda tanah bergerak telah terjadi sejak pertama kali hujan turun. Mereka merasakan adanya getaran kecil dari dalam tanah, seperti ada dorongan atau pergeseran perlahan. Namun getaran tersebut dianggap hal biasa karena hujan.

Namun kondisi tersebut hanya berlangsung beberapa jam saja. Tanah kemudian perlahan mulai retak, lantai rumah bergeser, dan dinding menunjukkan celah yang semakin melebar. Tidak lama kemudian sejumlah rumah langsung ambruk.

Warga yang ada di sekitar lokasi langsung berlari menyelamatkan diri, tanpa bisa menyelamatkan harta benda mereka. 

Sebenarnya fenomena tanah bergerak telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Namun fenomena kali ini terjadi paling parah, karena skala dampaknya lebih luas, dan kecepatan pergerakannya jauh lebih mengkhawatirkan.


Dampak tanah bergerak


Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng akibat fenomena tanah bergerak di tegal, sebanyak 863 rumah mengalami rusak ringan hingga berat, sebanyak 2.416 warga mengungsi, sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur publik juga mengalami kerusakan.

Pemerintah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari terhitung dari 3 hingga 16 Februari.

"Hasil investigasi dan kajianm di lapangan menunjukkan pergerakan tanah di Tegal merupakan creeping. Lapisan tanahnya jenis lempung, ketika jenuh air, tanah akan bergerak perlahan," kata Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto.


Relokasi


Pemerintah menyiapkan dua skenario relokasi untuk warga yang terdampak tanah bergerak di Tegal. Untuk skenario pertama adalah memakai lahan perhutani, kemudian yang kedua adalah menyewa lahan dari masyarakat.

Di atas lahan relokasi tersebut rencananya akan dibangun hunian sementara (huntara) dengan teknologi RISHA. Bangunan akan dibangun dengan luas 4x6 meter di atas kavling 6x6 meter.


Wilayah lain berpotensi tanah bergerak


Ternyata sejumlah wilayah di Indonesia juga memiliki potensi tanah bergerak, akibat kondisi geologi yang labil dan curah hujan yang tinggi. Wilayah-wilayah tersebut di antaranya Aceh, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.


Sumber: BPBD Provinsi Jateng & Pemkab Tegal

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)