Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur, BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Akhir Tahun

22 September 2026 17:13

Jakarta: Awal musim hujan periode 2026/2027 diprediksi mundur dari jadwal biasanya akibat kemarau panjang yang dipicu El Nino. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai ancaman cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana pada akhir tahun nanti.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopahuluwakan, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih berada di puncak musim kemarau, terutama pada bulan September. Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) mengakibatkan kondisi cuaca menjadi lebih kering dan durasi kemarau yang melampaui batas normal.

"Karena musim kemarau tahun ini lebih kering dan lebih panjang, hal tersebut berdampak langsung pada awal musim hujan yang diprediksi akan mundur," ujar Ardhasena dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa 22 September 2026. 

BMKG memetakan bahwa kedatangan hujan tidak akan terjadi secara serentak di seluruh tanah air. Berikut adalah perkiraan sebaran awal musim hujan berdasarkan wilayah:

  • September 2026: Musim hujan mulai memasuki wilayah bagian utara, meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan sebagian besar wilayah Riau.
  • Oktober 2026: Hujan mulai bergeser ke arah selatan, mencakup Riau bagian selatan, Jambi, serta sebagian besar wilayah Kalimantan (Barat, Tengah, dan Timur).
  • November 2026: Wilayah yang baru akan memasuki musim hujan meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah, Kalimantan  selatan, hingga sebagian besar Sulawesi.

Karakteristik Hujan dan Potensi Bencana

Meskipun awal musim hujan diprediksi mundur, BMKG mencatat bahwa total curah hujan selama satu musim diprediksi tetap berada pada kategori normal. Namun, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.

"Akan ada periode-periode 3 bulan khususnya dari Desember, Januari dan Februari dengan curah hujan yang cukup tinggi," kata Ardhasena. 

Ardhasena memperingatkan adanya potensi lonjakan intensitas hujan. Durasi musim hujan yang menjadi lebih pendek namun dengan total volume air yang tetap normal berarti hujan akan turun dengan intensitas yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat.

"Lonjakan dari kondisi kering ke basah dalam periode yang relatif pendek ini perlu diwaspadai karena dapat memicu dampak turunan berupa bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor di banyak wilayah," ujarnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X