Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Tembus USD102/Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Carsurin.com

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Tembus USD102/Barel

Husen Miftahudin • 2 October 2026 08:19

Houston: Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 2 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Desember naik 4,6 persen menjadi USD102,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November naik 3,1 persen menjadi USD93,18 per barel.
 
Kontrak Brent untuk pengiriman November yang berakhir pada Rabu sebelumnya ditutup di level USD103,50 per barel. Sepanjang September, harga Brent naik sekitar 14 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara itu, harga WTI meningkat sekitar lima persen.
 
Kenaikan harga minyak terjadi setelah laporan media menyebut AS mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah. Wall Street Journal melaporkan AS mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga serta tambahan kapal Korps Marinir ke kawasan tersebut.
 
Mengutip pejabat AS, laporan itu menyebut tambahan pasukan dapat mencapai 9.000 hingga 10 ribu personel pada akhir November. Presiden AS Donald Trump juga disebut mempertimbangkan kelanjutan serangan terhadap Iran pada November.
 
Trump mengatakan pada Kamis waktu setempat dirinya masih harus mengambil keputusan terkait Iran. "Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi," kata Trump.
 
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran. Iran juga dilaporkan tengah mempersiapkan respons lebih keras jika AS kembali melancarkan serangan besar.
 

 

Aliran minyak Timur Tengah mulai pulih

 
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah indikator menunjukkan adanya pemulihan aliran minyak dari kawasan Teluk. Data Kpler yang dikutip dalam laporan menunjukkan ekspor minyak mentah Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari.
 
Arab Saudi juga kembali melakukan pemuatan kapal tanker dari pelabuhan utama di Laut Merah, Yanbu, setelah mengaktifkan kembali operasi Jalur Pipa Timur-Barat yang melintasi wilayah negara tersebut.
 
Meski aliran ekspor mulai pulih, volumenya masih berada di bawah tingkat sebelum konflik. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah pada September masih sekitar 3,2 juta barel per hari di bawah level Februari.
 
Adapun perkembangan diplomatik antara AS dan Iran juga menjadi perhatian pasar minyak. Harapan tercapainya kesepakatan sempat muncul dalam rangkaian pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
 
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan. Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan posisi masing-masing dalam pidato di forum tersebut, sementara pembicaraan perwakilan kedua negara di sela-sela acara belum menghasilkan kesepakatan.
 
Pada awal pekan, Trump menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan imbalan penghentian permusuhan, pencabutan blokade angkatan laut AS, penghapusan sanksi ekonomi, serta pencairan aset Iran. Iran kemudian menyatakan telah menerima tanggapan AS atas proposal terbarunya.
 
Laporan Bloomberg News pada Kamis juga menyebut Menteri Luar Negeri Iran dalam pembicaraan tertutup mengisyaratkan kesiapan Teheran memulihkan akses bagi inspektur nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Informasi tersebut dikutip dari sumber yang mengetahui pembicaraan.


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Harga diesel AS jadi perhatian

 
Selain harga minyak mentah, pasar juga mencermati perkembangan harga diesel di AS. Trump pada Rabu mengatakan masih membahas kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS. Sebelumnya, Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor secara menyeluruh selama 90 hari.
 
Harga diesel AS menjadi perhatian setelah mencapai rekor USD6,5276 per galon pada pekan lalu. Persediaan diesel AS juga masih berada pada level rendah.
 
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada Fox News pada Kamis dirinya sangat yakin Eropa dapat membantu menurunkan harga bahan bakar olahan dengan mengurangi persediaan darurat diesel.
 
Walt Chancellor menilai persoalan energi yang dihadapi AS memiliki cakupan lebih luas dan tidak hanya berkaitan dengan diesel atau produk olahan. "Masalah inti yang dihadapi AS bukanlah masalah diesel. Bukan pula masalah produk olahan. Bahkan mungkin bukan masalah minyak bumi. Ini adalah masalah energi global," kata Chancellor.
 
Menurut dia, keterkaitan AS dengan pasar global terlihat dari arus minyak mentah yang masuk dan keluar kilang serta perdagangan produk olahan. "Dalam hal ini, dorongan AS yang tampaknya memiliki dimensi global dapat dipahami," tambah Chancellor.

(Husen Miftahudin)