Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. (Anadolu Agency)
PM Qatar Sebut Netanyahu Penjahat Perang atas Tindakan di Gaza
Willy Haryono • 30 September 2026 09:40
Doha: Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “penjahat perang” pada Selasa. Ia menegaskan Doha akan tetap melanjutkan upaya mediasi meski ketegangan regional meningkat.
Dalam wawancara dengan jurnalis Inggris Piers Morgan, Sheikh Mohammed ditanya apakah dirinya menganggap Netanyahu sebagai penjahat perang.
“Tentu saja. Apa yang dilakukan di Gaza merupakan kejahatan perang, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas hal tersebut adalah penjahat perang,” kata Sheikh Mohammed.
“Rumah sakit telah menjadi sasaran, sekolah telah menjadi sasaran. Apa pun pembenaran dan argumennya, tidak ada yang dapat membenarkan hal ini,” tambahnya.
Sheikh Mohammed juga menuduh Netanyahu menyerang Qatar secara politik untuk mengalihkan perhatian dari tindakan Netanyahu dan pemerintahannya sendiri.
Sheikh Mohammed kembali mengecam serangan Israel pada 9 September 2025 terhadap Doha yang menargetkan pejabat Hamas ketika Qatar sedang menjalankan upaya mediasi. Serangan tersebut menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar.
“Kami diserang Israel ketika sedang melakukan mediasi,” kata Sheikh Mohammed. Ia menggambarkan serangan tersebut sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seorang mediator.
“Netanyahu telah melewati batas, seperti yang telah dia lakukan terhadap batas-batas lainnya sebelumnya.”
Meski ketegangan meningkat, Sheikh Mohammed mengatakan Qatar akan tetap memprioritaskan diplomasi. Menurut dia, keterlibatan melalui jalur di balik layar tetap menjadi cara paling efektif untuk mencapai kemajuan.
“Kami berusaha melakukan yang terbaik untuk memberikan nasihat terbaik kepada pemerintah AS tentang bagaimana mencapai solusi, demikian juga kepada Iran,” ujarnya.
Terkait konflik regional yang lebih luas, Sheikh Mohammed mengatakan terdapat tiga persoalan yang perlu ditangani untuk meredakan perang, yakni program nuklir Iran dan sanksi, kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, serta pengaturan keamanan regional yang melibatkan Iran dan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Menurut dia, kerangka keamanan regional harus dibangun berdasarkan dialog, prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri dan non-agresi, serta diiringi peningkatan kerja sama ekonomi.
Sebelumnya pada Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari mengatakan Doha terus menjalankan upaya mediasi dan menyampaikan pesan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia mengatakan Qatar tetap khawatir terhadap kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut dan berupaya mencari solusi damai.
Baca juga: Pertemuan Netanyahu dan Presiden UEA Dikabarkan Dihadiri Perwakilan 10 Negara