Trump: Harga Minyak akan Turun Setelah Perang Berakhir dalam Waktu Dekat

Presiden AS Donald Trump. Foto: Xinhua/Hu Yousong.

Trump: Harga Minyak akan Turun Setelah Perang Berakhir dalam Waktu Dekat

Eko Nordiansyah • 28 September 2026 08:10

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, harga minyak diperkirakan akan turun tajam segera setelah perang dengan Iran berakhir. Trump menyampaikan ini kepada para wartawan pada hari Minggu, seraya menyoroti peningkatan arus minyak yang sudah terjadi melalui Selat Hormuz. 

Ia juga mengatakan bahwa para negosiator AS kemungkinan akan melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran minggu ini, demikian dilaporkan Axios yang mengutip sebuah wawancara telepon.

"Harga minyak akan turun segera setelah permintaan mereda, segera setelah perang berakhir (yang akan terjadi dalam waktu dekat). Harga minyak akan anjlok dan turun," ujarnya dikutip dari Investing, Senin, 28 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah penolakan AS terhadap usulan terbaru Iran untuk segera membuka selat tersebut sepenuhnya jika syarat-syarat mereka dipenuhi, serta di tengah spekulasi bahwa AS menganggap situasi saat ini di selat tersebut masih dapat dikendalikan dan lebih baik daripada harus menerima syarat-syarat Iran.

"Ingat satu hal: harga minyak saat ini lebih murah dibandingkan masa pemerintahan Biden. Terlepas dari semua itu, kami mengeluarkan minyak dalam jumlah yang sangat besar. Tadi malam, kami mengeluarkan minyak dalam jumlah rekor dari Selat Hormuz, lebih banyak daripada jumlah yang kami keluarkan sebelum perang," tambahnya.

Trump juga mengatakan kepada Fox News pada hari Minggu bahwa kemungkinan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran sebelum pemilihan umum paruh waktu bulan November tidak dikesampingkan. 


(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Iran enggan melunak

Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan masih menunggu tanggapan pasti dari AS melalui pihak penengah, setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menolak usulan Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Teheran mengetahui komentar Trump namun belum menerima tanggapan resmi melalui Qatar dan Pakistan, yang bertindak sebagai penengah. Ia menyatakan bahwa solusi melalui perundingan tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi kebuntuan terkait jalur energi global yang vital tersebut.

Araghchi bertolak ke New York untuk memimpin delegasi tingkat tinggi dalam sidang ke-81 Majelis Umum PBB, dan diperkirakan akan tetap berada di kota tersebut hingga hari Rabu.

"Presiden Pezeshkian dan saya tidak datang ke New York untuk mengobarkan perang. Kami datang untuk mewujudkan perdamaian," ujar Araghchi dalam sebuah unggahan di X pada hari Minggu.

Sementara itu, menurut kantor berita Iran Fars, pasukan Iran menargetkan 19 kapal yang disebut sebagai "pelanggar" di Selat Hormuz pada hari Jumat dan Sabtu. 

Fars melaporkan bahwa 12 kapal menjadi sasaran pada Jumat malam dan tujuh kapal lainnya pada Sabtu malam, sementara laporan lokal yang dikutip oleh kantor berita tersebut menyebutkan bahwa rudal jelajah dan pesawat nirawak (drone) serang Iran telah diluncurkan ke arah kapal-kapal komersial di sebelah selatan selat tersebut pada hari Minggu.

Selain itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada hari Minggu menyatakan telah menyita sebuah kendaraan bawah air militer AS yang canggih yang beroperasi di Selat Hormuz. Namun, juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan bahwa AS memiliki kendali penuh atas seluruh aset drone operasionalnya.

Para negosiator AS dan Iran sempat mempertimbangkan sebuah kesepakatan di mana Teheran akan membuka kembali selat tersebut dan Washington akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pengaturan ini akan menyerupai nota kesepahaman yang dicapai pada pertengahan Juni, yang sempat menghasilkan gencatan senjata sebelum pertempuran kembali pecah.

Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa Iran telah mengajukan usulan namun ia menolaknya, dengan alasan bahwa Teheran menginginkan pembukaan kembali selat tersebut sesegera mungkin karena posisi mereka sedang melemah.

Ketegangan juga meningkat di wilayah lain di kawasan tersebut pada hari Sabtu; pasukan koalisi yang didukung Arab Saudi di Yaman menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat dua pesawat nirawak (drone) Houthi yang menargetkan Riyadh serta sebuah rudal balistik yang diarahkan ke Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi.

Serangan-serangan ini terjadi setelah adanya peringatan serangan udara di Riyadh sekitar satu minggu sebelumnya, ketika rudal-rudal yang mengarah ke ibu kota Arab Saudi tersebut berhasil dicegat.

Pernyataan-pernyataan terbaru ini membuat posisi Washington dan Tehran menemui jalan buntu terkait masalah Selat Hormuz, di mana Iran tetap bersikeras pada syarat-syaratnya meskipun Trump telah secara terbuka menolak usulan mereka.

(Eko Nordiansyah)