Museum NTB Pamerkan 21 Artefak Budaya untuk Penonton MotoGP Mandalika 2026

Ilustrasi MotoGP. Dok MotoGP.

Museum NTB Pamerkan 21 Artefak Budaya untuk Penonton MotoGP Mandalika 2026

Angel Rinella • 8 October 2026 16:02

Jakarta: Museum Nusa Tenggara Barat (NTB) memamerkan 21 artefak budaya di MotoGP Mandalika 2026. Pameran tersebut digelar untuk mengenalkan kekayaan budaya NTB kepada wisatawan dan penonton MotoGP 2026.

Koleksi yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan warisan budaya masyarakat NTB, tetapi juga dikaitkan dengan karakter balapan MotoGP. Salah satu koleksi yang menjadi bagian penting dalam pameran ialah Sekardiu, hewan mitologi yang memiliki kaitan dengan cerita wayang Sasak.

Pamong Budaya Madya Museum NTB, Bunyamin, menjelaskan Sekardiu memiliki makna yang selaras dengan MotoGP karena menggambarkan kecepatan, energi, dan konektivitas. Ia menyampaikan hal tersebut saat menata ruang pameran di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah.

"NTB mempunyai kekayaan warisan budaya yang sangat luar biasa, yaitu Sekardiu. Hal ini menyimbolkan kecepatan, energi, dan konektivitas," kata Bunyamin dikutip Antara, Kamis, 8 Oktober 2026.
 



Petugas Museum NTB. Foto: Dok. ANTARA/Sugiharto Purnama

21 Artefak Budaya Dipamerkan di MotoGP Mandalika 2026 

Bunyamin menjelaskan 21 artefak yang dipamerkan mencakup berbagai koleksi sejarah dan budaya NTB. Koleksi tersebut memperlihatkan kekayaan budaya daerah yang dikaitkan dengan karakter MotoGP.

Berikut sejumlah koleksi yang ditampilkan dalam pameran tersebut:

  • Naskah dan Wayang Jayengrana
    Koleksi ini terdiri dari satu naskah kuno Jayengrana serta wayang Jayengrana dan Sekardiu. Keduanya menjadi bagian dari koleksi yang memperkenalkan cerita dan kesenian tradisional masyarakat NTB.
  • Koleksi Sekardiu
    Sekardiu menjadi salah satu koleksi utama dalam pameran karena memiliki bentuk dan kisah yang khas. Hewan mitologi ini digambarkan berkepala kuda dan singa, berekor naga, serta memiliki tubuh seperti kuda.
  • Kaitan Sekardiu dengan MotoGP
    Dalam cerita wayang Sasak, Sekardiu digambarkan sebagai kendaraan tokoh Jayengrana yang memiliki kecepatan luar biasa. Karakter tersebut kemudian dikaitkan dengan MotoGP yang identik dengan kecepatan, energi, dan konektivitas.
  • Jaran Kamput
    Sekardiu juga berkaitan dengan seni tradisi masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Jaran Kamput. Dalam bahasa Sasak, jaran berarti kuda, sedangkan kamput berarti tunggangan.
  • Penggunaan dalam Upacara Adat
    Jaran Kamput masih digunakan masyarakat Sasak dalam berbagai kegiatan adat hingga saat ini. Tradisi tersebut antara lain digunakan untuk menghibur anak yang akan disunat dan mengarak pengantin.
  • Lukisan, Cale, dan Kain Tenun
    Koleksi lainnya terdiri dari enam lukisan, empat cale atau alat pemotong buah pinang berbentuk kuda, dua pasang Sekardiu, serta empat kain tenun. Seluruh koleksi tersebut melengkapi pameran yang mengangkat kekayaan budaya NTB dalam suasana MotoGP.


Bunyamin mengatakan pameran tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali Jaran Kamput kepada masyarakat dengan mengaitkannya dengan kehidupan masa kini. Ia berharap warisan budaya tersebut tetap dikenal dan memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

"Kami ingin memberikan pesan bahwa Jaran Kamput merupakan warisan budaya yang sangat luar biasa yang bisa dihubungkan dengan kehidupan saat ini," ucap Bunyamin.
 


Pameran Berlangsung hingga 11 Oktober

Kepala Museum NTB, Ahmad,mengatakan pameran berlangsung pada 8 hingga 11 Oktober 2026. Kegiatan tersebut digelar sejak sehari sebelum hingga berakhirnya penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Ruang pameran dapat dikunjungi mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA. Lokasinya berada di South Gallery lantai dua gedung Pertamina MotoGP Experience Gallery di kawasan Sirkuit Mandalika.

Nuralam menjelaskan pameran tersebut menjadi bagian dari upaya Museum NTB mengenalkan budaya daerah kepada pengunjung MotoGP. Wisatawan yang datang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun negara lain.

"Kami harap pengunjung MotoGP mengetahui tentang kebudayaan NTB," papar dia.

Pengenalan tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan wisatawan mengenai Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok. Nuralam juga berharap kegiatan ini menunjukkan bahwa wisata olahraga dan wisata budaya dapat berjalan beriringan.

Pameran tahun ini memiliki konsep yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada 2025, Museum NTB lebih banyak menampilkan kekayaan wastra yang dipadukan dengan Gunung Samalas Rinjani dan Gunung Tambora.

Sementara itu, pada 2026 Museum NTB menampilkan koleksi etnografi yang memiliki kaitan dengan balapan MotoGP. Koleksi tersebut menjadi cara Museum NTB mempertemukan warisan budaya dengan ajang olahraga modern yang berlangsung di Lombok.

Nuralam menegaskan pihaknya ingin mempertemukan kekayaan budaya masa lalu dengan peristiwa olahraga modern. Upaya tersebut dilakukan melalui koleksi-koleksi yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.

(Arga Sumantri)