Jangan Terlena Lima Emas

Editorial Media Indonesia: Jangan Terlena Lima Emas. Foto: Media Indonesia (MI)/Duta.

Editorial Media Indonesia

Jangan Terlena Lima Emas

Media Indonesia • 5 October 2026 06:19

Ada alasan kuat untuk mengapresiasi capaian kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Dari target empat medali emas, tim Merah Putih membawa pulang 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Total 39 medali itu tentu bukan hasil yang layak dikecilkan. Di balik setiap keping medali, ada latihan panjang, pengorbanan, dan perjuangan atlet yang pantas kita hormati.

Namun, bagi pengelola olahraga di negeri ini, keberhasilan melampaui target tidak seharusnya membuat evaluasi berhenti. Justru setelah pesta olahraga berakhir, pekerjaan yang sesungguhnya dimulai. Ini krusial karena target hanyalah batas yang ditetapkan sebelum bertanding, sedangkan prestasi adalah ukuran kemajuan yang semestinya dilihat dari waktu ke waktu.
 


Secara pemenuhan medali, Indonesia memang berhasil melewati target. Akan tetapi, dari sisi prestasi, kita turun. Pada Asian Games Hangzhou 2022, Indonesia meraih 7 emas, 11 perak, dan 18 perunggu serta menempati peringkat ke-13. Kini, dengan lima emas dan total 39 medali, posisi Indonesia berada di peringkat ke-16. Secara statistik jelas, jumlah emas dan peringkat kita turun jika dibandingkan dengan perolehan di Asian Games sebelumnya.

Karena itu, jangan sampai keberhasilan melewati target empat emas dipakai sebagai alasan untuk menutup mata atas penurunan prestasi. Target boleh tercapai, tetapi standar prestasi tidak boleh ikut diturunkan.

Terlebih lagi, lima emas itu datang hanya dari empat cabang olahraga. Bulu tangkis menyumbang dua emas, serta masing-masing satu emas dari angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Selain panahan yang kali ini menorehkan sejarah emas pertama mereka, tiga cabang lainnya memang bisa dikatakan langganan emas di ajang Asian Games.

Dari fakta tersebut harus kita ingatkan bahwa evaluasi tidak cukup berhenti pada pertanyaan siapa yang gagal meraih medali. Yang jauh lebih penting ialah melihat mengapa sistem pembinaan belum mampu melahirkan lebih banyak cabang olahraga yang konsisten bersaing di level Asia.

Regenerasi atlet, kualitas pelatih, pembinaan usia dini, kompetisi nasional, sport science, nutrisi, hingga kesinambungan pelatnas harus diperiksa kembali. Medali tidak lahir hanya dari pemusatan latihan menjelang pertandingan. Medali adalah hasil dari ekosistem yang dibangun bertahun-tahun.

Tak elok kiranya kalau pemerintah justru terkesan 'menutupi' kelemahan sistem pembinaan itu dengan menetapkan sasaran atau target yang aman. Jika itu yang terus dilakukan, makna keberhasilan akan tereduksi menjadi sekadar 'melampaui target' ketimbang sebagai kemajuan nyata dari satu ajang ke ajang berikutnya.

Tentu, target emas disusun berdasarkan kalkulasi peluang dan kesepakatan dengan induk cabang olahraga. Itu wajar. Pemerintah perlu juga bersikap realistis agar sasaran tidak menjadi angka kosong. Namun, realistis tidak berarti harus rendah diri secara berlebihan. Realistis semestinya berarti mengetahui posisi kita sekarang sekaligus berani menentukan seberapa jauh kita harus bergerak.


Atlet dan ofisial kontingen Indonesia mengikuti defile saat penutupan Asian Games 2026 di Stadion Paloma Mizuho, Nagoya, Aichi, Jepang. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Maka, sekali lagi, evaluasi Asian Games 2026 menjadi penting. Pemerintah dan federasi jangan hanya menghitung berapa emas yang dapat dibawa pulang. Hitung pula berapa cabang yang sedang tumbuh, berapa atlet muda yang siap menggantikan senior, dan berapa nomor yang dalam empat atau delapan tahun ke depan bisa menjadi sumber medali.

Olahraga prestasi bukan proyek mengejar target sesaat. Ia adalah investasi panjang yang hasilnya baru terlihat ketika sistem bekerja secara konsisten. Kali ini kita boleh bersyukur karena lima emas dapat dibawa pulang. Namun, lima emas itu bukanlah garis akhir. Ia justru alarm untuk menaikkan standar olahraga kita.

Perbandingan dengan negara ASEAN barangkali bisa menjadi cermin standar tersebut. Di Asian Games 2026 kali ini, Tailan mengoleksi 18 emas dan Malaysia sembilan emas, jauh di atas lima emas Indonesia. Jadi, apakah kita yang memiliki jumlah penduduk, basis atlet, sumber daya, fasilitas, serta tradisi olahraga yang jauh lebih kuat, mau standarnya terus-menerus berada di bawah mereka?  

(Fachri Audhia Hafiez)