Ilustrasi. Foto: Dok MI
Dolar AS Melemah, Euro Bangkit
Eko Nordiansyah • 7 October 2026 09:03
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026 waktu setempat. Dolar AS turun dari level tertinggi dalam hampir 18 bulan seiring bangkitnya kembali euro dan meredanya gejolak pasar obligasi Treasury AS.
Dikutip dari Investing, Rabu, 7 Oktober 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen ke level 101,86. Indeks ini bergerak di dekat level tertingginya sejak 9 April 2025.
Dolar AS melandai saat permintaan obligasi meningkat
Di dalam negeri AS, dolar AS sedikit melandai seiring turunnya imbal hasil (yield) obligasi Treasury. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 3,5 basis poin dan berakhir di level 5,278 persen. Sementara imbal hasil tenor 30 tahun sedikit turun ke posisi 5,661 persen. Kedua instrumen tersebut baru-baru ini sempat mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak awal 2002.Kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat harga minyak, besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI, sikap hawkish bank sentral, serta membengkaknya utang fiskal telah berkontribusi pada aksi jual besar-besaran di pasar obligasi. Peristiwa di Prancis juga semakin memperparah kekhawatiran pasar.
Nilai tukar dolar tetap tinggi meskipun ekspektasi mengenai pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve dalam waktu dekat telah berkurang. Data inflasi dan pasar tenaga kerja terkini mengisyaratkan adanya ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Pada Selasa, Presiden Donald Trump ditanya mengenai kekuatan dolar terhadap euro. Ia menjawab hal itu disebabkan oleh kondisi ekonomi AS yang "baik" dan dolar yang kuat "tidak menyebabkan inflasi."

(Ilustrasi euro. Foto: Freepik)
Euro menguat
Euro mendapat dukungan dari stabilnya imbal hasil di Eropa setelah kandidat utama presiden Prancis, Marine Le Pen, berjanji akan melakukan pemangkasan belanja secara besar-besaran jika ia terpilih. Selain itu, terdapat pula komentar positif dari seorang anggota dewan Bank Sentral Eropa (ECB).Mata uang tunggal ini terakhir tercatat naik 0,3 persen ke level USD1,1259, bangkit kembali setelah serangkaian penurunan yang dipicu oleh gejolak di pasar obligasi Prancis.
Biaya pinjaman acuan tenor 10 tahun negara tersebut telah mencapai level yang belum pernah terlihat sejak awal 2000-an di tengah krisis utang fiskal, dan selisih imbal hasil (spread) antara obligasi Prancis dan obligasi Jerman (Bunds) telah mencapai titik terlebar sejak krisis utang Zona Euro tahun 2012.
Defisit Prancis diproyeksikan mencapai 5,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini, dan utang publiknya mendekati angka 120 persen dari PDB. Pemerintah saat ini pekan lalu meluncurkan rancangan anggaran untuk tahun 2027, dengan target defisit publik sebesar lima persen dari PDB melalui usulan pemangkasan belanja sebesar 54 miliar euro (USD60,79 miliar).
Namun, Prancis juga menghadapi ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum dua putaran pada bulan April dan Mei tahun depan. Kandidat presiden unggulan Le Pen, dari partai sayap kanan jauh National Rally, bersama pemimpin partai Jordan Bardella, pada Selasa memaparkan usulan anggaran utama mereka.
"Untuk menghentikan gejolak pasar dan utang tanpa penundaan, kami akan memulihkan surplus anggaran primer sebelum akhir 2028. Pada akhir masa jabatan saya, belanja publik akan kembali berada di bawah ambang batas 50 persen dari PDB," ujar Le Pen kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa ia menargetkan penghematan sebesar 140 miliar euro pada 2032.
Nilai tukar euro juga mendapat sentimen positif setelah Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Philip Lane, mengisyaratkan tingginya harga energi di kawasan tersebut belum memicu dinamika inflasi putaran kedua yang agresif di seluruh ekonomi Zona Euro.
Dalam wawancara dengan kantor berita Italia ANSA yang diterbitkan pada hari Selasa, Lane menekankan besarnya dampak rambatan (pass-through) dari harga energi tersebut masih sangat tidak pasti.
"Sejauh ini, kami belum melihat adanya dampak putaran kedua yang sangat kuat. Kami terus memantaunya," ujar Lane.
Ia menambahkan, masih terlalu menyederhanakan masalah jika dikatakan kita berada dalam skenario buruk ataupun skenario dasar.
Penilaian Lane yang terukur memberikan keyakinan bahwa ECB mungkin akan tetap mempertahankan pendekatan kebijakan yang hati-hati dan bertahap, alih-alih panik dan melakukan pengetatan berlebihan, meskipun pertumbuhan harga konsumen di kawasan tersebut masih tinggi.