Ilustrasi. Foto: Dok. MI
Indonesia Dorong Konsumsi Tuna Domestik demi Perkuat Pasar
Gervin Nathaniel Purba • 7 November 2026 18:26
Jakarta: Masyarakat Indonesia didorong meningkatkan konsumsi ikan tuna dengan menjadikannya salah satu pilihan menu protein keluarga setidaknya sekali dalam sepekan. Selain memperhatikan kandungan gizi, konsumen juga diimbau mengenali asal-usul dan metode penangkapan ikan untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam diskusi Bincang Tuna Episode 3 bertajuk Know Your Tuna, Value Every Catch di Indonesia Tuna Pavilion, dalam rangkaian SIAL Food & Drinks Indonesia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 6 November 2026.
Penguatan konsumsi domestik dinilai dapat memperluas pasar tuna nasional, mendorong inovasi produk olahan, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi industri perikanan dan nelayan. Terlebih, nilai ekspor tuna Indonesia telah melampaui USD1 miliar pada 2025.
Program Leader Tuna Consortium Thilma Komaling mengatakan, perubahan menuju sistem pangan berkelanjutan dapat dimulai dari keputusan sederhana konsumen dalam memilih makanan sehari-hari. Menurut dia, masyarakat perlu mengenali jenis tuna yang dikonsumsi, cara penangkapannya, serta menghargai peran nelayan dalam rantai pasok perikanan.
"Setiap pilihan makanan memiliki cerita dan dampak di baliknya. Ketika masyarakat mulai mengenali tuna yang mereka konsumsi, memahami bagaimana ikan tersebut ditangkap, serta menghargai nelayan yang bekerja di baliknya, kita sedang membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab antara konsumen dan sumber daya laut," ujar Thilma, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 7 November 2026.
Tuna jadi pilihan protein keluarga
Sementara Direktur MDPI Foundation Yasmin Simbolon mengajak masyarakat membiasakan konsumsi tuna sebagai salah satu sumber protein hewani dalam menu keluarga. Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Segar Indonesia dari Badan Pangan Nasional, ikan tuna mengandung sekitar 25,76 gram protein per 100 gram bahan pangan.
Selain kandungan gizi, keamanan pangan juga perlu diperhatikan. Founder dan CEO Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) Janti Djuari menjelaskan, histamin dapat terbentuk pada ikan tuna apabila penanganan dan penyimpanannya tidak dilakukan dengan baik. Kadar histamin tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan sehingga penerapan rantai dingin penting untuk menjaga mutu dan keamanan ikan.
Ikan tuna. Foto: dok MI/Panca Syukarni
Janti menambahkan, konsumen perlu memperhatikan kualitas produk, kebersihan tempat penjualan, serta kondisi penyimpanan ikan. Edukasi mengenai penanganan yang tepat juga diperlukan agar masyarakat lebih memahami keamanan tuna sebelum dikonsumsi.
Government Affairs & Policy Lead Yayasan IPNLF Indonesia Nilmawati mendorong masyarakat lebih aktif menanyakan asal-usul dan metode penangkapan tuna kepada pedagang, penyedia makanan laut, maupun restoran.
"Jangan ragu untuk bertanya kepada penjual atau restoran, dari mana tuna yang mereka jual berasal dan bagaimana ikan tersebut ditangkap. Apakah menggunakan pancing ulur (handline), pole-and-line (huhate), atau metode lainnya? Pertanyaan sederhana dari konsumen dapat mendorong pelaku usaha untuk semakin transparan dan memperhatikan praktik penangkapan yang bertanggung jawab," ungkap Nilmawati.
Pengelolaan sumber daya laut bertanggung jawab
Metode penangkapan satu per satu (one-by-one fishing), seperti pancing ulur (handline) dan pole-and-line atau huhate, dikenal lebih selektif. Namun, keberlanjutan hasil tangkapan tetap membutuhkan pengelolaan sumber daya laut yang bertanggung jawab.
Peningkatan kesadaran konsumen terhadap asal-usul produk diharapkan mendorong pelaku usaha memperkuat transparansi rantai pasok dan memperhatikan praktik penangkapan berkelanjutan. Dengan demikian, pilihan konsumsi masyarakat tidak hanya mempertimbangkan rasa dan kandungan gizi, tetapi juga kualitas produk serta dampaknya terhadap lingkungan.
Penguatan konsumsi tuna domestik juga berkaitan dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir. Berdasarkan kajian State of the Sea: Indonesia (2018), sekitar 97 persen armada penangkapan ikan di Indonesia merupakan kapal berukuran maksimal 10 gross tonnage (GT). Hal ini menunjukkan besarnya peran nelayan skala kecil dalam sektor perikanan nasional.
Diskusi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Perikanan Sedunia (World Fisheries Day) yang diperingati setiap 21 November. Melalui peningkatan konsumsi tuna, pemahaman keamanan pangan, serta perhatian terhadap asal-usul dan metode penangkapan ikan, masyarakat diharapkan turut mendukung pasar domestik, keberlanjutan perikanan, dan kesejahteraan nelayan Indonesia.