Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam acara diskusi di San Francisco, AS, 13 Oktober 2026. (KJRI San Francisco)
Gita Wirjawan di San Francisco: Talenta dan Inovasi Kunci Masa Depan Asia Tenggara
Willy Haryono • 14 October 2026 14:47
San Francisco: Indonesia mendorong penguatan peran Asia Tenggara dalam perekonomian global melalui pengembangan talenta, penguasaan teknologi, dan peningkatan inovasi.
Dengan hampir 700 juta penduduk serta potensi sumber daya dan sumber daya manusia yang terus berkembang, kawasan ini dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi lebih besar dalam membentuk masa depan global.
Perspektif tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Asia Tenggara di Panggung Dunia: Peluang di Kawasan yang Dinamis yang diselenggarakan bersama oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco, Bay Area Council, dan Bay Area Council Economic Institute pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Forum tersebut menghadirkan Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI, pengusaha, dan akademisi di Stanford University. Diskusi membahas peluang dan tantangan dalam memperkuat posisi Asia Tenggara di tengah perubahan lanskap ekonomi, teknologi, dan geopolitik dunia.
Dipandu oleh Sean Randolph, Senior Director Bay Area Council Economic Institute, diskusi itu mengangkat gagasan dalam buku terbaru Gita, What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global. Buku tersebut mengajak dunia memandang Asia Tenggara bukan hanya sebagai kawasan dengan potensi ekonomi besar, melainkan juga sebagai kekuatan yang dapat ikut membentuk masa depan global.
“Sudah saatnya perspektif dan potensi Asia Tenggara mendapat tempat yang lebih besar dalam tatanan global," ujar Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana.
"San Francisco Bay Area, sebagai salah satu pusat teknologi, investasi, dan inovasi dunia, menjadi tempat yang strategis untuk memperkenalkan potensi Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan teknologi,” sambungnya, dalam siaran pers KJRI San Francisco yang diterima Metrotvnews.com, Rabu, 14 Oktober 2026.
Sean Randolph menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, skala ekonomi dan dinamika Asia Tenggara belum memperoleh perhatian global yang sepadan dengan potensinya. Dialog bersama Gita, kata dia, menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh perkembangan kawasan serta arah masa depan Indonesia dan Asia Tenggara.
Talenta dan Inovasi Jadi Kunci Masa Depan Asia Tenggara
Dalam paparannya, Gita menekankan bahwa daya saing Asia Tenggara akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, penguasaan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), serta kemampuan menghasilkan pengetahuan dan inovasi sendiri.Menurutnya, kawasan ini perlu melampaui peran sebagai pengguna teknologi atau tujuan investasi dengan memperkuat kapasitas untuk menciptakan inovasi.
Salah satu gagasan yang dibahas adalah optimalisasi jejaring talenta internasional dan diaspora melalui pengembangan talenta (brain gain), pertukaran pengetahuan (brain train), sirkulasi pengalaman internasional (brain circulation), serta penguatan jejaring diaspora (brain linkage).
Pendekatan tersebut memungkinkan warga Indonesia yang menempuh pendidikan atau membangun karier di luar negeri untuk terus berkontribusi bagi Indonesia melalui pertukaran pengetahuan, penelitian, inovasi, dan pengembangan jejaring profesional, termasuk ketika mereka masih berkarier di luar negeri.
Gagasan ini dinilai relevan bagi San Francisco Bay Area dan Silicon Valley, yang menjadi tempat berkumpulnya perusahaan teknologi, institusi penelitian, serta talenta Indonesia yang berkecimpung dalam pengembangan teknologi mutakhir.
Diskusi juga membahas hubungan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan energi, pentingnya investasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, serta peluang pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk memperluas akses dan mentransformasikan pendidikan berkualitas.
Memperkuat Hubungan Indonesia dengan Pusat Inovasi Dunia
Antusiasme peserta terlihat dalam diskusi interaktif yang mencakup beragam isu, mulai dari pengembangan talenta STEM dan peran diaspora Indonesia hingga investasi, energi terbarukan, serta pemanfaatan AI untuk mendukung transformasi pendidikan.Bagi KJRI San Francisco, forum ini merupakan bagian dari diplomasi publik untuk memperluas pemahaman masyarakat Amerika Serikat mengenai Indonesia dan Asia Tenggara. Kegiatan tersebut juga bertujuan memperkuat jejaring dengan dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan komunitas teknologi di Bay Area.
Kolaborasi dengan Bay Area Council dan Bay Area Council Economic Institute membuka ruang dialog lebih luas mengenai peluang kemitraan dalam pengembangan talenta, pendidikan, investasi, dan inovasi.
Melalui forum ini, KJRI San Francisco membawa perspektif Indonesia dan Asia Tenggara ke salah satu pusat inovasi dunia. Upaya tersebut sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi internasional agar kawasan ini tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga berperan dalam menciptakan inovasi dan membentuk masa depan global.
Baca juga: Pusat Dinamika Asia Tenggara, ASEAN Didorong Adaptif agar Tetap Relevan