Menlu Sugiono saat menyampaikan National Statement di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, 26 September 2026. (webtv.un)
Pusat Dinamika Asia Tenggara, ASEAN Didorong Adaptif agar Tetap Relevan
Willy Haryono • 27 September 2026 06:45
New York: ASEAN perlu terus beradaptasi agar tetap relevan di tengah perubahan kawasan dan meningkatnya rivalitas strategis, karena kekuatan ASEAN terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan, mempertahankan komunikasi, serta terus mencari titik temu.
Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, Sabtu, 26 September 2026 waktu setempat.
Ia mengatakan Asia Tenggara memiliki posisi penting dalam dinamika kawasan dan global. Asia Tenggara, menurut dia, memiliki salah satu populasi usia produktif terbesar di dunia dan kini menjadi ekonomi terbesar kelima di dunia, yang didukung oleh ekonomi digital yang besar dan berkembang pesat.
“Di pusat kawasan yang dinamis ini adalah ASEAN,” ujar Menlu Sugiono.
ASEAN mempertemukan negara-negara dengan sejarah, sistem politik, tingkat pembangunan, dan kepentingan nasional yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat negara-negara ASEAN tidak selalu memiliki pandangan yang sama.
Namun, Menlu Sugiono menekankan bahwa negara-negara ASEAN telah memilih untuk tetap bersama dan terus berkomunikasi, termasuk ketika mencapai kesepakatan tidak mudah.
“Kami tidak selalu sepakat, tetapi kami telah membuat pilihan sadar untuk tetap bersama. Dan kami memilih untuk terus berbicara, bahkan ketika mencapai kesepakatan sulit,” ungkap dia.
Menurut Menlu Sugiono, kemampuan tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman ASEAN selama hampir enam dekade. ASEAN dinilai mampu mengelola perbedaan, mempertahankan komunikasi, dan terus mencari titik temu di antara negara-negara anggotanya.
Bagi Menku Sugiono, kemampuan untuk tetap bersatu sekaligus membuka ruang dialog dengan berbagai pihak merupakan kekuatan yang lahir dari persatuan dan sentralitas ASEAN.
“Selama hampir enam dekade, ASEAN telah mengelola perbedaan, mempertahankan komunikasi, dan terus mencari titik temu,” ujarnya.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika kawasan menghadapi peningkatan rivalitas strategis. Menurut Sugiono, persatuan dan sentralitas ASEAN memungkinkan kawasan untuk tetap melibatkan berbagai mitra sekaligus mempertahankan ruang bagi dialog dan kerja sama.
“Hal ini memungkinkan kita untuk melibatkan semua mitra dan mempertahankan ruang bagi dialog dan kerja sama, bahkan ketika persaingan strategis di sekitar kita semakin meningkat,” kata Menlu Sugiono.
“Di saat yang sama, membangun kawasan yang tangguh membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Karena itu, ASEAN harus terus berkembang agar tetap sesuai dengan tujuan dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya serta kawasan yang lebih luas,” ungkapnya.
Baca juga: Multilateralisme di Persimpangan: Pesan Menlu Sugiono dari Markas PBB