Kesehatan Mata Dinilai jadi Investasi Pembangunan Manusia

Petugas memeriksa kondisi kesehatan mata siswa saat cek kesehatan gratis (CKG) di SD Negeri Tempurejo 1, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026). ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Kesehatan Mata Dinilai jadi Investasi Pembangunan Manusia

Achmad Zulfikar Fazli • 13 October 2026 17:01

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggencarkan peningkatan kesehatan mata masyarakat melalui skrining, tindak lanjut, memerhatikan kesehatan mata anak, dan kolaborasi. Hal ini dilakukan karena kesehatan mata merupakan investasi pembangunan manusia.

"Kajian mengenai investasi kesehatan mata di Indonesia menunjukkan manfaat menjangkau sektor pendidikan, ketenagakerjaan, produktivitas, kesehatan mental hingga keselamatan publik," kata Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Saguni di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 13 Oktober 2026.       

Andi mengatakan skrining merupakan langkah awal menemukan gangguan penglihatan lebih dini. Sehingga, masyarakat dapat segera memperoleh tindak lanjut yang tepat berupa edukasi, koreksi, tata laksana, maupun rujukan sesuai kebutuhan. 

"Masyarakat perlu didorong untuk tidak hanya memeriksakan mata ketika sudah muncul keluhan, pemeriksaan mata perlu menjadi bagian dari perilaku menjaga kesehatan sepanjang siklus kehidupan," ujar Andi.
 


Andi menyampaikan setiap hasil skrining harus ditindaklanjuti. Temuan layanan refraksi harus mendapatkan koreksi yang tepat.

Kecurigaan katarak, glaukoma, retinopati, dan gangguan lain harus ditindaklanjuti atau dirujuk sesuai indikasi dan kompetensi fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, penguatan pelayanan primer perlu berjalan beriringan dengan sistem rujukan yang baik. 

"Kemudian yang ketiga, berikan perhatian khusus kepada kesehatan anak. Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu," ujar Andi.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Menurut dia, orang tua dan guru perlu mewaspadai gejala gangguan mata kepada anak, seperti sering menyipitkan mata, melihat buku atau layar lebih dekat dari 30 cm, kesulitan melihat tulisan di papan, atau mengalami hambatan dalam proses belajar.

"Deteksi dan koreksi sejak dini penting agar gangguan penglihatan tidak menghambat kesempatan anak untuk belajar dan berkembang," ujar Andi.

Andi mengatakan kolaborasi dan komunikasi publik juga perlu diperkuat. Kesehatan mata bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, namun perlu keterlibatan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia kerja, mitra pembangunan dan media.

"Penglihatan yang baik memberi kesempatan kepada anak untuk belajar lebih optimal, membantu masyarakat tetap produktif, mengurangi ketergantungan terhadap keluarga dan mendukung keselamatan dalam beraktivitas," ujar Andi.

(Achmad Zulfikar Fazli)