Bahaya Resistensi Antibiotik, Apoteker Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Berhenti Minum Obat

Edukasi kefarmasian kepada masyarakat. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina. 

Bahaya Resistensi Antibiotik, Apoteker Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Berhenti Minum Obat

Achmad Zulfikar Fazli • 18 October 2026 11:40

Jakarta: Isu mengenai resistensi antibiotik dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap aturan penggunaan obat masih menjadi tantangan serius di dunia kesehatan. Apoteker dari Puskesmas Setiabudi, Hastuti, mengimbau masyarakat mewaspadai ancaman resistensi antibiotik akibat penggunaan obat yang tidak sesuai aturan.

“Masih-masih berlangsung resistensi antibiotik (di masyarakat). Itu sangat kita galakkan ya. Terkadang-kadang kita penyuluhan pun tentang resistensi antibiotik di situ. Karena ketika sudah resisten berarti pengobatannya biayanya akan menjadi lebih meningkat lagi,” kata Hastuti kepada Metrotvnews.com, Minggu, 18 Oktober 2026.

Hastuti mengatakan berhenti mengonsumsi sebelum habis dapat memicu resistensi. Sebab, bakteri yang belum sepenuhnya mati dapat beradaptasi dan kebal. Akibatnya, infeksi dapat kambuh kembali dan menjadi jauh lebih sulit diobati, yang membuat biaya pengobatan di masa mendatang semakin mahal.  

Hastuti juga menyoroti kebiasaan pasien berhenti mengonsumsi antibiotik saat merasa tubuhnya membaik tanpa menghabiskan sisa obat sesuai resep. 

“Jadi, ya itu penggunaannya itu kadang-kadang kalau sudah sehat, pasien ya sudah, berhenti. Padahal masih ada tablet tersisa. Nah, menginformasikan itu yang harus berulang kali supaya pasien paham kalau antibiotik harus dihabiskan,” terang Hastuti.

Booth edukasi kefarmasian di Kementerian Kesehatan. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina

 


Menurut dia, ketidaktahuan terhadap golongan obat juga masih kerap terjadi di tengah masyarakat. Banyak masyarakat belum bisa membedakan logo obat bebas, bebas terbatas, hingga obat keras yang seharusnya wajib dibeli menggunakan resep dokter.

“Banyak masyarakat itu eh ketika membeli obat di apotek, ada tanda-tanda khusus misalkan obat bebas, bebas terbatas, obat keras, itu yang masih tidak dipahami. Misalnya obat keras, dia bebas membeli obat tanpa resep dokter,” ujar Hastuti. 

Tidak jarang pula masyarakat mengikuti pengalaman orang lain yang merasa cocok dengan suatu obat tanpa melalui pemeriksaan medis terlebih dahulu. Padahal, kondisi dan diagnosis penyakit setiap individu memerlukan penanganan berbeda.

“Biasanya masyarakat itu mengikuti. Ketika ada orang cocok menggunakan obat ini, dia lantas mengikuti. Terkadang-kadang, ‘Oh, sembuh’ padahal belum tentu. Belum diperiksa secara menyeluruh oleh dokter,” ucap Hastuti. 

Masyarakat diimbau selalu cermat, teliti, dan tidak ragu berkonsultasi kepada tenaga profesional demi keamanan kesehatan jangka panjang. 

“Masyarakat harus bijak menggunakan obat. Bila tidak tahu obat, tanya apoteker, dan konsultasikan dengan dokter,” ujar Hastuti. 

(Afifah Alfina)

(Achmad Zulfikar Fazli)