Suhu Majalengka dan Cirebon Tembus 38,4 Derajat, Ini Kata BMKG

Ilustrasi cuaca panas, suhu maksimum.

Suhu Majalengka dan Cirebon Tembus 38,4 Derajat, Ini Kata BMKG

Nurul Hidayat • 21 October 2026 18:00

Majalengka: Masyarakat di wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu tengah merasakan suhu panas yang menyengat dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di kawasan tersebut nyaris menembus 39 derajat Celsius.

“Cukup panas,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad, Rabu, 21 Oktober 2026.

Fuad merinci, berdasarkan pengukuran pada Selasa, 20 Oktober 2026, suhu udara maksimum di Jatiwangi mencapai 38,4 derajat Celsius. Sementara di Kertajati menyentuh 37,4 derajat Celsius dan di Penggung 37,0 derajat Celsius. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan sehari sebelumnya pada Senin, 19 Oktober, di mana suhu maksimum di Jatiwangi tercatat 38,2 derajat Celsius, Kertajati 36,7 derajat Celsius, dan Penggung 37,0 derajat Celsius.

Kondisi terik ini dipengaruhi oleh intensitas penyinaran matahari, minimnya tutupan awan, serta dinamika atmosfer El Nino yang berkembang di wilayah Jawa Barat. Dia mengungkapkan bahwa pada Oktober ini, posisi semu matahari juga berada di selatan garis khatulistiwa.

"Karena itu, sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, masih dapat menerima penyinaran matahari yang cukup intens,” jelas Fuad.

Minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi dalam skala yang lebih besar, sehingga mendongkrak suhu udara terutama pada rentang siang hingga sore hari.

“Kondisi tersebut dapat terasa lebih menyengat di wilayah dataran rendah dan pesisir, seperti Indramayu serta kawasan terbuka di Majalengka,” jelas Fuad.

Ilustrasi (freepik)

Di sisi lain, suhu di wilayah Kabupaten Kuningan terpantau lebih bervariasi karena sangat dipengaruhi oleh ketinggian lahan, tutupan vegetasi, dan cuaca setempat. Pengaruh dinamika iklim seperti El Nino di masing-masing daerah juga berbeda-beda bergantung pada kondisi atmosfer lokal.

“Cuaca panas di suatu wilayah tidak selalu berarti seluruh wilayah sekitarnya mengalami kondisi yang sama. Hujan lokal masih berpotensi terjadi bergantung pada perkembangan dinamika atmosfer setempat,” tutur Fuad.

Bersiap Hadapi Masa Peralihan

Menghadapi paparan cuaca terik ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik yang berat di bawah sinar matahari langsung, memperbanyak minum air putih, dan menghemat penggunaan air. Warga juga dilarang membakar sampah sembarangan karena kondisi ranting yang kering sangat rawan memicu kebakaran lahan.

Lebih lanjut, wilayah Ciayumajakuning saat ini tengah bersiap memasuki masa peralihan (pancaroba) menuju musim hujan. Awal musim hujan diperkirakan mulai turun secara bervariasi pada November Dasarian II hingga Desember Dasarian III. Menjelang musim penghujan, masyarakat diimbau mulai membersihkan lingkungan dan saluran air guna mencegah banjir.

“Masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi pada masa peralihan. Termasuk kemungkinan hujan lokal, angin kencang, dan petir. ,” tutur Fuad.

BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati memastikan akan terus memantau dinamika atmosfer dan suhu udara guna memberikan pembaruan informasi yang akurat. Masyarakat diharapkan rutin mengakses kanal prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui situs maupun aplikasi Info BMKG.

(Lukman Diah Sari)