Media launch Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2025 di CGV Pacific Place, Jakarta pada Jumat, 9 Mei 2025. Dokumentasi/ istimewa
Menteri Ekraf Yakin FSAI Jadi Wadah Promosi Industri Kreatif
Deny Irwanto • 11 May 2025 21:39
Jakarta: Menteri Ekonomi Kreatif (Menteri Ekraf) Teuku Riefky Harsya meyakini subsektor perfilman sebagai salah satu cara yang efektif untuk memajukan ekonomi kreatif nasional.
Menteri Ekraf Teuku Riefky, mengatakan film bukan sekadar tontonan menghibur tapi juga bisa membuka prospek bagi anak muda bekerja di balik layar sekaligus menjadi ruang kolaborasi antarnegara.
Hal itu ditunjukkan Teuku Riefky melalui kehadirannya dalam media launch Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2025. Agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Australia di Indonesia sejak tahun 2016 itu akan menampilkan film-film terbaik Australia ke Indonesia.
"Kami optimistis bahwa FSAI dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kerja sama ekonomi kreatif antara Indonesia dan Australia serta mempromosikan warisan budaya dan kreatif kedua negara," kata Ekraf Teuku Riefky di CGV Pacific Place, Jakarta pada Jumat, 9 Mei 2025.
| Baca: KSP Singgung Komitmen Prabowo Berantas Korupsi di Penayangan Perdana Nyanyi Sunyi Dalam Rantang
|
Teuku Riefky turut mengamini bahwa FSAI telah menjadi agenda penting bagi Indonesia dan Australia dalam menunjukkan komitmen bersama untuk memajukan ekonomi kreatif sebagai sektor strategis bagi pembangunan nasional yang menjadi the new engine of growth.
Merujuk data dari Cinepoint, disebutkan jumlah penonton film Indonesia tahun 2024 mencapai 82 juta lebih di mana 21 film Indonesia di tahun tersebut tembus lebih dari 1 juta penonton. Sedangkan untuk tahun 2025, masih berdasarkan Cinepoint per 9 Mei 2025, jumlah penonton film Indonesia sudah mencapai 33,9 juta lebih atau 41 persen dari total jumlah penonton Indonesia tahun lalu.
Dengan geliat yang begitu menjanjikan tersebut, Ekraf Teuku Riefky percaya FSAI sangat relevan sebagai salah satu upaya mempromosikan subsektor film yang menjadi prioritas ekonomi kreatif. Terlebih industri perfilman Indonesia tengah menunjukkan momentum pertumbuhan yang semakin baik.
"Ini menunjukkan bahwa ada ruang yang luas dan menjanjikan bagi kolaborasi antara industri perfilman Indonesia dan Australia, seperti melalui koproduksi film, pertukaran sineas, dan distribusi film di kedua negara," ujarnya.