PBB Sebut Serangan Israel Ancam Gencatan Senjata Gaza dan Solusi Dua Negara

PBB memperingatkan gencatan senjata Gaza terancam dan mendesak peningkatan bantuan kemanusiaan.

PBB Sebut Serangan Israel Ancam Gencatan Senjata Gaza dan Solusi Dua Negara

Muhammad Reyhansyah • 19 February 2026 15:05

New York: Seorang pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa gencatan senjata yang rapuh di Gaza masih berada dalam ancaman di tengah meningkatnya serangan Israel dan langkah sepihak di Tepi Barat yang diduduki.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary DiCarlo mengatakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB bahwa militer Israel dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangan di berbagai wilayah Gaza, termasuk kawasan padat penduduk, yang menewaskan puluhan warga Palestina.

“Dalam beberapa pekan terakhir, militer Israel meningkatkan serangan di seluruh Gaza, menghantam kawasan padat penduduk dan menewaskan puluhan warga Palestina,” katanya. Ia menambahkan, “Gaza masih belum damai.”

DiCarlo menyebut situasi saat ini sebagai “momen penentu,” setelah bertahun-tahun konflik dan penderitaan, namun peluang menuju perubahan tidak terjamin dan tidak berlangsung tanpa batas.

Dilansir Anadolu Agency, Kamis (19/2/2026), DiCarlo menyerukan langkah mendesak untuk memperkuat gencatan senjata dan meningkatkan bantuan kemanusiaan.

“Upaya kolektif kita sekarang harus memperkuat gencatan senjata di Gaza dan meringankan penderitaan penduduk,” ujarnya. Ia juga menekankan perlunya kemajuan menuju stabilisasi dan pemulihan yang selaras dengan hukum internasional sebagai dasar perdamaian jangka panjang.

Ia menyoroti pertemuan Board of Peace di Washington sebagai langkah penting untuk mendukung fase berikutnya dari proses gencatan senjata dan jalur politik menuju solusi dua negara.

Selain itu, DiCarlo menegaskan bahwa masuknya bantuan kemanusiaan harus meningkat secara signifikan karena sebagian besar penduduk Gaza masih mengungsi dan menghadapi kondisi hidup yang sangat berat.

Operasi kemanusiaan, katanya, masih menghadapi keterbatasan besar, termasuk kekurangan tempat tinggal, perlengkapan pendidikan, dan peralatan medis.

DiCarlo juga mengkritik tindakan Israel di Tepi Barat yang diduduki, dengan menyebut operasi militer skala besar dan penggunaan kekuatan mematikan meningkatkan kekhawatiran internasional.

“Kita sedang menyaksikan aneksasi de facto Tepi Barat secara bertahap ketika langkah sepihak Israel terus mengubah lanskap,” katanya.

Ia menegaskan kembali bahwa permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur tidak memiliki keabsahan hukum dan melanggar hukum internasional serta resolusi PBB.

Menurut laporan, kekerasan di Tepi Barat meningkat sejak konflik Gaza dimulai pada Oktober 2023, disertai pembunuhan, penangkapan, pengungsian, dan perluasan permukiman.

Menutup pernyataannya, DiCarlo menyerukan implementasi penuh rencana perdamaian internasional dan menegaskan pentingnya memanfaatkan peluang untuk memulihkan proses politik menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berlaku sejak Oktober, menghentikan konflik yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya.

Namun, otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa meskipun gencatan senjata berlaku, ratusan pelanggaran masih terjadi, menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka tambahan.

Baca juga: Israel Batasi Perlintasan Rafah, 20.000 Pasien di Gaza Terjebak Tanpa Akses Medis

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)