Kapal induk Angkatan Laut AS Abraham Lincoln saat dikerahkan ke Timur Tengah. Foto: Anadolu
AS Bersiap Kirim Ribuan Pasukan Tambahan ke Timur Tengah
Muhammad Reyhansyah • 25 March 2026 19:46
Washington: Departemen Perang Amerika Serikat (AS) atau Pentagon diperkirakan akan mengirim ribuan prajurit tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS ke kawasan Timur Tengah.
Informasi ini disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui rencana tersebut pada Selasa, 24 Maret 2026, di tengah peningkatan besar kekuatan militer AS meskipun Presiden Donald Trump masih membuka peluang kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Menurut laporan sebelumnya, pemerintahan Trump telah mempertimbangkan pengerahan tambahan pasukan, termasuk kemungkinan penempatan di wilayah Iran, yang berpotensi meningkatkan eskalasi konflik yang kini telah memasuki pekan keempat dan berdampak pada pasar global.
Sumber yang berbicara tanpa menyebut identitasnya tidak merinci lokasi penempatan maupun waktu kedatangan pasukan tersebut. Para prajurit berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang bermarkas di Fort Bragg, North Carolina.
Gedung Putih menyatakan bahwa pengumuman resmi terkait pengerahan pasukan akan disampaikan oleh Pentagon.
“Seperti yang telah kami sampaikan, Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer yang tersedia,” kata Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, dikutip dari AsiaOne, Rabu, 25 Maret 2026.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa belum ada keputusan untuk mengirim pasukan ke wilayah Iran secara langsung, namun langkah ini bertujuan memperkuat kapasitas operasi di kawasan jika diperlukan di masa depan. Diperkirakan antara 3.000 hingga 4.000 tentara akan dikerahkan.
Pengerahan ini menyusul laporan sebelumnya mengenai pengiriman ribuan Marinir dan pelaut menggunakan kapal serbu amfibi USS Boxer beserta unit ekspedisi marinirnya ke kawasan tersebut. Sebelum tambahan ini, sekitar 50.000 personel militer AS telah berada di Timur Tengah.
Langkah penguatan militer ini muncul sehari setelah Trump menunda ancaman serangan terhadap pembangkit listrik Iran, dengan menyebut adanya “pembicaraan yang produktif.” Namun, Iran membantah adanya dialog tersebut.
Sejak operasi militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar 9.000 target di wilayah Iran dilaporkan telah diserang. Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa 13 tentara AS tewas dan 290 lainnya terluka dalam konflik tersebut, dengan sebagian besar korban luka telah kembali bertugas.
Opsi Militer AS Hadapi Dilema
Sumber sebelumnya menyatakan bahwa militer AS tengah mempertimbangkan berbagai opsi dalam konflik ini, termasuk mengamankan Selat Hormuz dan kemungkinan pengerahan pasukan ke wilayah pesisir Iran.Pemerintahan Trump juga dilaporkan membahas kemungkinan pengiriman pasukan darat ke Pulau Kharg, yang menjadi pusat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.
Divisi Lintas Udara ke-82 dikenal sebagai unit yang mampu dikerahkan dalam waktu 18 jam setelah menerima perintah, dengan spesialisasi pada operasi serangan udara menggunakan penerjunan.
Namun, penggunaan pasukan darat AS, bahkan untuk misi terbatas, dinilai membawa risiko politik yang signifikan bagi Trump. Hal ini mengingat rendahnya dukungan publik Amerika terhadap kampanye militer di Iran, serta janji Trump sebelumnya untuk menghindari keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah.
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Selasa menunjukkan bahwa 35 persen warga Amerika mendukung serangan AS ke Iran, turun dari 37 persen pada pekan sebelumnya. Sementara itu, 61 persen responden menyatakan tidak setuju, meningkat dari 59 persen pada survei sebelumnya.