Iran Bantah Tuduhan Trump yang Sebut Adanya Ambisi Jahat di Balik Program nuklir

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Anadolu

Iran Bantah Tuduhan Trump yang Sebut Adanya Ambisi Jahat di Balik Program nuklir

Fajar Nugraha • 26 February 2026 05:38

Paris: Iran membantah klaim Amerika Serikat (AS) tentang program rudalnya sebagai "kebohongan besar”.

Sebelumnya Presiden Donald Trump mengatakan, Teheran sedang mengembangkan rudal yang dapat menyerang Amerika Serikat.

Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa, Trump menuduh Teheran memiliki "ambisi nuklir jahat" saat Washington meningkatkan tekanan dengan pengerahan militer besar-besaran di sekitar Teluk.
 

Kedua musuh dijadwalkan bertemu untuk putaran ketiga pembicaraan pada Kamis 26 Februari 2026 di kota Jenewa, Swiss, dalam upaya mencapai solusi diplomatik.

Trump mengklaim Teheran telah "mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kami di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat".

Ia mengatakan Iran ingin "memulai semuanya dari awal lagi" dengan program nuklirnya dan "saat ini kembali mengejar ambisi nuklir jahat mereka".

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada hari Rabu membantah klaim tersebut, tanpa menyebut Trump secara langsung.

"Apa pun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban jiwa selama kerusuhan Januari, hanyalah pengulangan 'kebohongan besar'," katanya di X, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Presiden AS juga mengklaim bahwa otoritas Iran membunuh 32.000 orang selama gelombang protes yang dimulai pada bulan Desember dan mencapai puncaknya pada tanggal 8 dan 9 Januari.

Barat percaya Iran sedang berupaya mendapatkan bom atom, tetapi Teheran bersikeras program nuklirnya bersifat damai. Trump telah mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Teheran telah berulang kali mengatakan akan menanggapi dengan tegas setiap serangan, memperingatkan bahwa bahkan serangan terbatas "akan dianggap sebagai tindakan agresi".

"Pilihan saya adalah menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi, tetapi satu hal yang pasti: Saya tidak akan pernah mengizinkan sponsor teror nomor satu di dunia, yang jelas-jelas merupakan yang terbesar, untuk memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Beberapa jam sebelum pidatonya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan untuk menghindari bentrokan militer sudah di depan mata.

"Kita memiliki kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang membahas kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial, menambahkan bahwa kesepakatan "sudah di depan mata, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan".

Araghchi bersumpah bahwa Iran "dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir", tetapi menegaskan hak negara tersebut untuk "memanfaatkan keuntungan dari teknologi nuklir damai".

Iran dan AS mengadakan lima putaran pembicaraan nuklir tahun lalu, tetapi negosiasi tersebut berakhir setelah serangan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran memicu perang selama 12 hari.

Garis merah

Di dalam Iran, mahasiswa memulai semester baru pada akhir pekan dengan berkumpul dan menghidupkan kembali slogan-slogan dari protes nasional melawan kepemimpinan ulama, menjaga tekanan domestik terhadap kepemimpinan tersebut.

Pada Selasa, hari keempat berturut-turut protes kampus, video yang diverifikasi oleh AFP menunjukkan dua kelompok saling berhadapan di aula besar di sebuah universitas di Teheran sebelum terjadi perkelahian.

Sehari sebelumnya, mahasiswa telah membakar bendera yang diadopsi oleh Republik Islam Iran setelah revolusi 1979, menurut video yang telah diverifikasi.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, memberikan reaksi resmi pertama terhadap demonstrasi tersebut, mengatakan bahwa meskipun mahasiswa memiliki hak untuk berdemonstrasi, mereka harus "memahami garis merah".

Bendera itu, tambahnya, adalah salah satu "garis merah yang harus kita lindungi dan tidak boleh dilanggar atau diabaikan, bahkan di saat-saat kemarahan memuncak".

Gelombang protes awal dimulai pada bulan Desember, dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran yang dilanda sanksi, tetapi segera berkembang menjadi demonstrasi nasional yang menimbulkan salah satu tantangan terbesar bagi para pemimpin Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Kerusuhan tersebut memicu penindakan keras yang menewaskan ribuan orang.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mencatat lebih dari 7.000 kematian, sementara memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Para pejabat Iran mengakui lebih dari 3.000 kematian, tetapi mengatakan kekerasan tersebut disebabkan oleh "tindakan teroris" yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)