Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Dokumentasi/ BMKG
BMKG Antisipasi Krisis Air Melalui Operasi Modifikasi Cuaca di Pulau Jawa
Silvana Febiari • 30 June 2026 11:42
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada awal Oktober mendatang. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi krisis air akibat kemarau yang lebih panas-kering di Pulau Jawa.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan operasi modifikasi cuaca ini penting dilakukan untuk memperbesar potensi turun hujan. Sehingga, bisa menyuplai air ke waduk penopang pertanian dan hajat hidup masyarakat di tengah ancaman kekeringan.
"Saat ini waduk-waduk utama di Jawa, seperti di Citarum ada Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, dan di Brantas di Jawa Timur posisinya masih aman. Tapi nanti di September-Oktober kemungkinan defisit, sehingga awal Oktober akan kita lakukan operasi modifikasi di Jawa," kata Seto, dikutip dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026.
Seto menjelaskan pengajuan dokumen operasi modifikasi cuaca sudah dikoordinasikan bersama pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal ini seiring adanya status tanggap darurat kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Berdasarkan analisis iklim BMKG diketahui wilayah Indonesia bagian barat dan selatan saat ini masih mengalami hujan. Namun mulai Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober intensitas curah hujan diproyeksikan bakal berkurang sangat drastis, termasuk di Pulau Jawa karena diperparah oleh adanya fenomena El Nino.
"Puncak kekeringan ekstrem ekstrem diprakirakan terjadi pada Agustus dan September, sehingga kesiapsiagaan dari berbagai lembaga kemanusiaan, termasuk distribusi air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) sangat dibutuhkan masyarakat," jelas dia.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto (tengah) menjawab pertanyaan pewarta terkait upaya mitigasi dampak kekeringan musim kemarau di Pulau Jawa. ANTARA/M. Riezko Bima Elko Prasetyo
BMKG tidak hanya memfokuskan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kekeringan di sentra pangan Pulau Jawa. Operasi serupa juga dilakukan secara paralel guna menjaga ketersediaan air di Danau Toba, Sumatera Utara, dan wilayah Poso, Sulawesi Tengah.
Langkah intervensi OMC tersebut dioptimalkan guna memastikan waduk-waduk yang mulai menyusut dapat terisi kembali. Upaya ini sekaligus dapat menekan potensi perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu bencana kabut asap.
"Harapannya operasi modifikasi cuaca ini dapat membantu sektor pertanian serta menopang kelangsungan hidup manusia, terutama saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan yang rawan terdampak asap," ujar dia.