Suasana pengungsian di Tenda Samador, Maumere, Sikka, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Mengintip Aktivitas Tenda Pengungsian di Stadion Samador Maumere
Anggi Tondi Martaon • 23 August 2026 17:11
Maumere: Alas terpal dan atap kain jadi pemandangan sehari-hari Nurniati, 52. Tepatnya, setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026.
Perempuan asal Uring Laut, Alok Barat, Sikka, itu terpaksa menghabiskan waktu menghuni tenda pengungsian yang terletak di Stadion Samador, Maumere. Kondisinya jelas jauh dari kenyamanan tinggal di rumah sendiri.
Namun, Nurniati bersyukur tenda pengungsi berada di tanah lapang, yang berarti risiko tertimpa bangunan sangat rendah. Apalagi, di tengah gempa susulan yang kerap muncul.
Nurniati bercerita bagaimana dirinya menghabiskan waktu di tenda pengungsi. Di tengah situasi pengungsian, aktivitas sederhana menjadi cara dia mengisi waktu sekaligus mengurangi rasa jenuh. Akses terhadap listrik yang disediakan PLN dan jaringan komunikasi membuat dia tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, meski harus tinggal sementara di tenda.
Tayangan favorit jadi penghibur
Nurniati menghabiskan sebagian waktunya dengan menonton tayangan favoritnya di telepon seluler sambil menjaga anaknya. Menurut dia, kegiatan sederhana tersebut cukup membantu mengalihkan perhatian dari kondisi yang sedang dihadapi.
"Hitung-hitung cari hiburan biar enggak terlalu pusing mikirin bencana," ujar Nurniati di Stadion Samador, Maumere, NTT, Minggu, 23 Agustus 2026.
Aktivitas serupa dilakukan seorang anak muda bernama Feby. Bedanya, dia memanfaatkan gawai sebagai sarana belajar. Feby sibuk melihat handphone kemudian menggoreskan pena di bukunya.
Siswi kelas 1 SMP Bina Wirawan itu mengerjakan tugas dari guru. Feby menceritakan perubahan kegiatan belajar mengajar usai gempa. Skema pembelajaran diganti daring atau online.
"Guru kasih tugas, diselesaikan nanti dikirim lewat WA (WhatsApp)," ujar Feby.
Selama menyelesaikan tugas, Feby sangat bergantung pada layanan internet. Sebab, dia mencari sumber jawaban melalui Google. Selain itu, Feby menggunakan gadget-nya untuk menghibur diri dengan berselancar di media sosial atau bermain gim.
"Sering lihat TikTok atau main game boneka-boneka," ujar Feby.
Baca Juga :
Pascagempa, PLN Pulihkan Listrik di Wilayah NTT

Pelajar kelas 1 SMP Bina Wirawan, Feby, sibuk mengerjakan tugas di tenda pengungsian yang berada di Stadion Samado, Maumere, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi M.
Fasilitas jaringan wifi gratis
Fasilitas WiFi gratis juga dimanfaatkan relawan Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos, Igun. Kelancaran jaringan internet sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi. Sehingga, pelayanan yang diberikan, terutama trauma healling kepada korban bencana tidak menumpuk di satu lokasi.
"Saya menggunakan jaringan WiFi gratis. Jaringannya bagus," ujar Igun.
Igun mengaku fasilitas jaringan internet tersebut tidak sepenuhnya lancar. Terutama jika berada jauh dari wireless WiFi. "Mungkin traffic (penggunaan WiFi) lagi tinggi ya," ujar Igun.
Dia memahami kondisi tersebut. Sebab, jumlah pengungsi yang menetap mencapai 1.300 orang. Oleh karena itu, jika WiFi tidak terlalu bagus, Igun memilih menggunakan data seluler Telkomsel.