Cerita Maria Hibur Anak-Anak Pengungsi Gempa Lewat Nyanyian dan Gerak

23 August 2026 15:18

Guncangan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya memicu kerusakan infrastruktur, tetapi juga menyisakan trauma mendalam, khususnya bagi anak-anak. Di Kampung Letajago, Kabupaten Nagekeo, inisiatif warga lokal hadir menjadi pelipur lara di tengah keterbatasan sarana pengungsian.

Di posko darurat Kelurahan Dangga, Kecamatan Aesesa, seorang warga bernama Maria Fatima Papu secara sukarela turun tangan menjadi relawan trauma healing.

Meski tidak memiliki latar belakang ilmu psikologi formal, Maria berinisiatif mengalihkan rasa takut puluhan anak korban gempa dengan metode yang sangat sederhana, yakni bernyanyi dan bermain.
 


"Kebisaan yang saya miliki adalah mendampingi anak-anak dengan gerak dan lagu. Kami ajak mereka bernyanyi, meloncat, dan bertepuk tangan. Dengan apa yang ada saja dulu, supaya rasa takut mereka bisa berangsur-angsur berkurang," ungkap Maria dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu 23 Agustus 2026. 

Trauma Suara Seng dan Gempa Susulan

Menurut Maria, tingkat kecemasan anak-anak di pengungsian masih cukup tinggi. Peristiwa gempa dahsyat yang terjadi pada 15 Agustus lalu sekitar pukul 06.00 pagi masih terekam jelas di ingatan mereka. Saat itu, anak-anak yang sudah terbangun menyaksikan langsung bagaimana rumah mereka berguncang hebat hingga hancur.

"Rasa takut itu masih sangat ada. Dengar bunyi atap seng saja, mereka langsung merespons dengan ketakutan karena teringat guncangan waktu itu," kata Maria.

Namun, berkat rutinitas bernyanyi dan berinteraksi bersama di posko darurat, mental anak-anak perlahan mulai membaik. Mereka mulai terbiasa merespons gempa susulan yang sesekali masih mengguncang wilayah Nagekeo.

"Sekarang mereka sudah mulai bersahabat dengan kondisi (guncangan) tersebut. Memang rasa takut itu masih ada, tetapi perlahan mereka bisa melewati hari-hari di pengungsian dengan lebih baik," ujarnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X