23 August 2026 11:24
Guncangan dahsyat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menyisakan kerusakan fisik pada bangunan, tetapi juga memicu trauma psikologis yang mendalam bagi para penyintas. Rasa cemas dan ketakutan tersebut paling banyak dialami oleh kelompok rentan, terutama anak-anak dan remaja di posko pengungsian.
Kondisi ini tergambar jelas pada para siswa di asrama SMK Yosefa, Labuan Bajo. Bayang-bayang ketakutan akan tertimpa bangunan runtuh akibat gempa susulan membuat sebagian besar dari mereka memilih untuk tidur dan bertahan di tenda-tenda darurat.
Merespons kondisi tersebut, Polri melalui tim trauma healing dari Biro SDM Polda Jawa Tengah (Jateng) turun langsung memberikan pendampingan psychological first aid yang intensif di lokasi pengungsian.
Ketua Tim Trauma Healing Polda Jateng, Ipda Nina, menjelaskan bahwa metode yang digunakan meliputi sharing session, bermain bersama, hingga mengajarkan teknik relaksasi mandiri.
"Kita memberikan pendampingan psikologi agar adik-adik bisa merilis traumanya. Kami juga mengajarkan sedikit teknik tapping (ketukan ringan) dan pernapasan. Teknik ini bisa mereka praktikkan di waktu senggang untuk mengurangi rasa cemas atau trauma atas gempa susulan yang terjadi," jelas Ipda Nina dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu 23 Agustus 2026.
Terapi Interaktif Bersama Anjing K-9
Guna mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian anak-anak dari ingatan traumatis, Polri turut menghadirkan elemen kejutan berupa terapi interaktif menggunakan anjing pelacak K-9. Anjing tersebut dibawa langsung oleh Direktorat Polisi Satwa Korps Sabhara Baharkam Polri.