Aries Fadhilah Dewan Redaksi Media Group. Dok Metro TV.
Nikmati Piala Dunia dengan Gembira
Aries Fadhilah • 8 July 2026 13:01
Ada satu fenomena yang hanya terjadi setiap empat tahun sekali: tiba-tiba semua orang menjadi ahli sepak bola.
Tetangga yang sehari-hari lebih hafal omongan pejabat daripada daftar pemain, mendadak fasih menjelaskan skema high pressing. Satpam komplek mengkritik pergantian pemain. Rekan kantor yang biasanya sibuk dengan kerjaan, kini sibuk menghitung peluang lolos berdasarkan selisih gol. Di warung kopi, di kantor, bahkan di grup WhatsApp mana pun, pembicaraan yang paling mudah ditemukan adalah Piala Dunia.
Semua punya pendapat. Semua punya analisis. Dan yang lebih menarik, hampir semua merasa pendapatnya yang paling benar.
Begitulah Piala Dunia. Sepak bola memang olahraga paling populer di muka bumi. Karena itu, pesta empat tahunan bernama Piala Dunia selalu berhasil menyedot perhatian miliaran manusia. Selama kurang lebih sebulan, dunia seolah memiliki bahasa yang sama: sepak bola.
Di kalangan jurnalis olahraga Indonesia, Piala Dunia bahkan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bersama Olimpiade, meliput Piala Dunia sering diibaratkan sebagai "naik haji" bagi wartawan olahraga. Jika seorang wartawan pernah meliput langsung Piala Dunia, seolah ia telah mencapai puncak pengabdiannya dalam profesi itu.
Baca Juga :
Seburuk-buruknya Kekalahan
Namun justru karena terlalu sakral itulah, kadang kita lupa bahwa sepak bola pada dasarnya adalah hiburan.
Kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang paling benar, sampai lupa menikmati permainan.
Bagi saya, sepak bola bukan ujian sekolah yang menentukan benar atau salah. Sepak bola adalah tontonan yang memang seharusnya dinikmati.
Saya menikmati cara Lionel Messi memainkan sepak bola dengan kesederhanaan yang luar biasa. Tidak banyak gerakan yang sia-sia, tetapi hampir selalu menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Di sisi lain, saya juga menikmati semangat Cristiano Ronaldo yang seolah tidak pernah habis untuk membawa Portugal terus bermimpi.
Saya menikmati Brasil yang terus berusaha menjaga identitas samba mereka, sekalipun dunia sepak bola terus berubah. Dan saya juga menikmati keberanian tim-tim kecil seperti Cape Verde yang datang tanpa beban, lalu mencoba meruntuhkan dominasi negara-negara besar sepak bola. Bukankah justru di situlah letak romantisme Piala Dunia? Bahwa mimpi kadang lebih kuat daripada sejarah.
Saya juga menikmati drama yang selalu hadir. Gol menit terakhir, kartu merah, adu penalti, keputusan Video Assistant Review (VAR) yang memecah pendapat, hingga pelatih yang dianggap jenius hari ini lalu disebut gagal dua hari kemudian.
Yang tidak kalah menghibur justru adalah media sosial. Di sana, setiap orang memiliki lisensi sebagai analis sepak bola. Semua bebas memberi penilaian. Ada yang memuji pemain, ada yang mencaci pemain. Ada yang menyalahkan pelatih, ada yang mengutuk wasit. Bahkan keputusan VAR pun dianalisis.
Kadang saya tersenyum membaca analisis yang begitu meyakinkan, padahal hanya nonton cuplikan di media sosial. Lucunya lagi, sebagian orang menonton pertandingan bukan untuk menikmati sepak bola, melainkan mencari pembenaran atas pendapatnya sendiri. Jika timnya menang, ia merasa paling paham sepak bola. Jika kalah, wasit, VAR, rumput, cuaca, bahkan arah angin pun bisa ikut disalahkan.
Saya memilih menikmati semuanya. Bukan karena semua pendapat itu benar, tetapi karena setiap orang memiliki cara sendiri menikmati Piala Dunia.
Karena itu saya sering menahan diri untuk ikut berdebat. Bukan karena tidak punya argumen, melainkan karena saya tidak ingin merusak kegembiraan orang lain. Saya juga tidak ingin kegembiraan saya sendiri dirampas oleh perdebatan yang tidak akan pernah menemukan pemenangnya.
Pada akhirnya, Piala Dunia hanya datang sekali dalam empat tahun. Sayang sekali jika momen yang seharusnya dipenuhi kegembiraan justru habis untuk saling membuktikan siapa yang paling pintar membaca pertandingan.
Mari menikmati setiap gol, setiap kejutan, setiap air mata kemenangan maupun kekalahan, setiap kisah tentang tim besar maupun tim kecil yang berani bermimpi. Karena ketika peluit panjang final berbunyi, yang akan paling lama kita kenang bukan siapa yang paling banyak memenangkan perdebatan di media sosial, melainkan betapa menyenangkannya menikmati Piala Dunia.