Seburuk-buruknya Kekalahan

Dewan Redaksi Media Group, Ahmad Punto. Foto: Media Indonesia/Ebet.

Podium Media Indonesia

Seburuk-buruknya Kekalahan

Media Indonesia • 8 July 2026 04:50

Ada kalimat yang menggambarkan perilaku lama yang terus bertahan melintasi zaman. 'Demi mencapai tujuan, segala cara dihalalkan'. 'Atas nama kemenangan, segala hal dipertaruhkan'.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, sejujurnya, banyak kerusakan besar dalam sejarah bermula dari sana. Ketika kemenangan dianggap lebih penting daripada kehormatan, integritas seolah menjadi hambatan. Aturan tidak lagi dianggap sebagai pagar, tapi gangguan. Cara yang semula dirasa memalukan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.

Ajang Piala Dunia 2026 baru saja menghadirkan pengingat kecil tentang hal itu. Di luar hiruk-pikuk laga babak 16 besar antara tuan rumah Amerika Serikat dan Belgia, publik lebih dulu disuguhi kontroversi di luar pertandingan. Kontroversi tentang adanya upaya agar sanksi terhadap salah satu pemain Amerika tidak langsung diberlakukan.
 


Konon, ada komunikasi melalui telepon sebanyak tiga kali antara Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino membahas hal itu. Trump disebut meminta agar sanksi terhadap Folarin Balogun, penyerang utama timnas Amerika itu, dibatalkan.

FIFA melembek. Balogun tiba-tiba diputuskan boleh bermain melawan Belgia. Padahal, di pertandingan sebelumnya melawan Bosnia-Herzegovina ia mendapat kartu merah langsung. Artinya, Balogun seharusnya menjalani sanksi larangan bermain di satu laga berikutnya.

Jelang pertandingan, fokus perdebatan publik pun bergeser. Yang diperbincangkan bukan lagi kualitas permainan, melainkan kecurigaan adanya upaya mengubah keadaan di luar lapangan. Lalu, pertandingan dimainkan. Balogun beneran dimainkan meski banyak kalangan, termasuk Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) dan UEFA, protes keras.


Presiden FIFA Gianni Infantino. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd.

Bagaimana hasilnya? Amerika kalah telak 1-4. Hasil itu seolah menyelesaikan sebuah ironi. Semua upaya di luar lapangan akhirnya tidak selalu mampu mengubah apa yang terjadi di dalam lapangan. Sepak bola, setidaknya laga itu, mengembalikan pertandingan kepada hal yang paling mendasar, yaitu kemampuan bermain.

Contoh yang dipertontonkan Amerika di Piala Dunia itu jelas mengusik nalar kita. Peristiwa itu sesungguhnya jauh lebih besar ketimbang sekadar hasil pertandingan. Ia sedang berbicara tentang watak manusia. Watak yang cenderung selalu percaya segala sesuatu dapat diatur. Watak yang kerap menganggap pengaruh lebih ampuh daripada kemampuan.

Demi memenangi pertandingan kehidupan, strategi memang penting. Kecerdikan juga perlu. Namun, strategi berbeda dengan manipulasi. Strategi bekerja di dalam aturan. Manipulasi bekerja agar aturan berubah mengikuti kepentingan. Perbedaan itulah yang belakangan makin kabur dan dicontohkan dengan gamblang oleh Amerika di Piala Dunia.

Fenomena seperti itu sejatinya hadir dalam berbagai bentuk. Tidak cuma di sepak bola. Tidak cuma di sana, tapi juga di sini, di Republik ini. Di dunia usaha, mungkin ia muncul sebagai praktik yang mengakali persaingan. Di birokrasi, ia menjelma menjadi penyalahgunaan kewenangan.

Di politik, gejalanya bahkan lebih mudah ditemukan. Teramat sering kita menyaksikan energi yang lebih besar dicurahkan untuk mengatur arena pertandingan daripada meningkatkan kualitas permainan. Aturan diutak-atik bukan demi keadilan, melainkan demi keuntungan. Lembaga diperebutkan bukan untuk memperkuat demokrasi, melainkan untuk mengamankan kepentingan kelompok.

Semuanya dilakukan atas nama satu hal, menang. Padahal, apalah arti kemenangan jika tidak disertai kepercayaan? Sekadar kemenangan, itu bisa diputuskan dengan cepat, tetapi membangun kepercayaan butuh bertahun-tahun. Kalau cuma ingin menang, itu bisa diberikan angka, tetapi kepercayaan hanya bisa dilahirkan dari integritas.

Itulah sebabnya ada kemenangan yang sah, tetapi tidak pernah benar-benar dihormati. Sebaliknya, ada kekalahan yang meninggalkan rasa hormat jauh lebih besar ketimbang kemenangan lawan. Kepercayaan terhadap proses yang bersih dan adil menjadi faktor penentunya.

Karena itu, sangat mungkin praktik menghalalkan segala cara sebetulnya bukan jalan pintas menuju kemenangan. Ia justru jalan tercepat menuju hilangnya legitimasi. Ketika legitimasi lenyap, kemenangan hanyalah angka yang terpampang di papan skor atau lembar penghitungan. Ia tidak memiliki kehormatan.

Kiranya itu pelajaran paling penting dari lapangan hijau pekan ini. Yang kalah bukan semata-mata sebuah tim nasional. Yang dipatahkan bukan hanya arogansi tuan rumah, melainkan keyakinan lama bahwa kekuasaan, pengaruh, atau manipulasi selalu dapat membelokkan hasil.

Dalam pertandingan di bidang kehidupan apa pun, entah itu olahraga, politik, entah bisnis, hasil akhir bukanlah satu-satunya penentu kualitas seseorang. Kualitas akan lebih ditentukan cara yang dipilih untuk mencapai hasil akhir itu.

Kalah menang itu biasa. Yang tidak biasa ialah ketika seseorang memilih cara kotor yang mengebiri aturan, menyembelih integritas, dan hasilnya tetap kalah. Itu ialah seburuk-buruknya kekalahan.

(Fachri Audhia Hafiez)