Antisipasi El Nino, BNPB Siapkan 3 Lapis Strategi Penanganan Darurat

Ilustrasi langit Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Fachri Audhia Hafiez.

Antisipasi El Nino, BNPB Siapkan 3 Lapis Strategi Penanganan Darurat

Atalya Puspa • 15 April 2026 18:41

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan tiga lapis strategi utama untuk menghadapi ancaman fenomena El Nino yang diprediksi menguat pada pertengahan tahun ini. Langkah ini mencakup modifikasi cuaca, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penyediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah rawan kekeringan.

"Lapis kedua adalah operasi udara dengan water bombing, terutama untuk mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang diprediksi meningkat drastis selama kemarau panjang," ujar Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB, Agus Riyanto, dalam Forum Diskusi Denpasar 12, dilansir Media Indonesia, Rabu, 15 April 2026.
 


Agus menjelaskan, lapis pertama strategi BNPB adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menjaga ketersediaan air di waduk dan sungai, dengan catatan harus sesuai rekomendasi BMKG. 

Sementara itu, lapis ketiga difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih melalui program pompanisasi dan pembangunan sumur bor komunal sedalam lebih dari 100 meter di daerah terdampak kronis.

"Pendekatan komunal ini dinilai tidak hanya menyelesaikan masalah air, tetapi juga memperkuat modal sosial masyarakat. Kita kenali ancamannya, kemudian kita tetapkan strategi, dan hasilnya tentu akan mengurangi dampak," imbuh Agus.

Saat ini, BNPB memprioritaskan enam provinsi yang dinilai paling rentan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla. Sebanyak 28 armada udara telah disiagakan untuk digeser sewaktu-waktu ke titik panas (hotspot) guna mencegah insiden besar seperti terbakarnya tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sempat terjadi pada 2023 akibat gas metana.


Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.


Di sisi lain, Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, mengingatkan bahwa El Nino tahun ini diprediksi masuk kategori lemah hingga moderat. Berdasarkan data per 1 April 2026, indeks El Nino saat ini berada di angka 0,28 (netral), namun diperkirakan melonjak hingga 0,81 pada periode Juli-September 2026.

"Musim kemarau pasti ada setiap tahun di Indonesia karena Indonesia hanya mengenal dua musim. Sementara El Nino adalah fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang turut mempengaruhi intensitas musim kemarau," jelas Fachri.

BMKG menekankan, meski intensitasnya diprediksi moderat, kehadiran El Nino yang berbarengan dengan musim kemarau tetap harus diantisipasi secara serius. 

Konsistensi kenaikan indeks hingga akhir tahun menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap ketersediaan air dan risiko karhutla akan berlangsung dalam durasi yang cukup panjang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)