IBC Dorong Pendalaman Pasar Keuangan lewat Islamic Sustainable Finance di IES 2026. Foto: dok IES.
IES 2026: Keuangan Syariah Berkelanjutan Jadi Kunci Pendalaman Pasar
Ade Hapsari Lestarini • 4 February 2026 20:08
Jakarta: Penguatan keuangan syariah berkelanjutan dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam memperdalam pasar keuangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Hal tersebut mengemuka dalam Thematic Roundtable Discussion #2: Islamic Sustainable Finance for Deepening Markets and Advancing Inclusive Growth yang berlangsung pada rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Diskusi yang digelar oleh Indonesian Business Council (IBC) bersama Global Ethical Finance Initiative (GEFI) itu menyoroti peran strategis Islamic Sustainable Finance dalam memperluas pembiayaan jangka panjang, meningkatkan likuiditas pasar, serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Chief Operating Officer IBC William Sabandar menilai keuangan syariah memiliki keunggulan karena berlandaskan prinsip etika, transparansi, dan keterkaitan dengan sektor riil. Menurut dia, tantangan ke depan bukan hanya memperbesar skala industri, tetapi memastikan keuangan syariah mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
"Pendalaman pasar perlu dibarengi dengan kualitas pembiayaan yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan," ujar William.

Sektor ekonomi halal berkontribusi ke PDB
Sejumlah indikator menunjukkan potensi tersebut. Sektor ekonomi halal, yang mencakup industri makanan dan minuman, fesyen muslim, pariwisata, hingga pertanian, tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah pun menargetkan peningkatan kontribusi ekonomi syariah dalam beberapa tahun ke depan seiring penguatan ekosistem keuangan dan pasar modal syariah.
Dari perspektif global, Chair of Global Steering Group GEFI Dame Susan Rice menyebut Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan Islamic Sustainable Finance di kawasan. Ia menekankan keselarasan prinsip keuangan syariah dengan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagai daya tarik bagi investor internasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan hijau.
Roundtable ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, mulai dari regulator, pelaku industri, hingga mitra global. Hadir dalam diskusi antara lain Iman Rachman dari Bursa Efek Indonesia, Dadang Muljawan dari Bank Indonesia, Dian Ediana Rae dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Masyita Crystallin dari Kementerian Keuangan, Harman Subakat dari Paragon Group, serta Omar Shaikh dari GEFI.
Diskusi membahas sejumlah isu utama, termasuk pengembangan instrumen pasar modal syariah, sustainability sukuk, pemanfaatan blended finance, serta peran keuangan syariah dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan inklusif.
Sebagai tindak lanjut, IBC dan GEFI juga menyepakati penguatan kerja sama strategis guna mempercepat pengembangan keuangan syariah berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperdalam pasar keuangan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem keuangan syariah global. (Keysa Qanita)