Ilustrasi, bendera Korea Selatan. Foto: thepeninsulaqatar.com
Gejolak Timur Tengah Bikin Inflasi Korsel Melonjak hingga Cetak Level Tertinggi
Richard Alkhalik • 6 May 2026 16:48
Seoul: Eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah dunia telah memicu lonjakan inflasi Korea Selatan (Korsel) pada April ke level tertinggi dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir. Kondisi ini kian memperkuat sinyal akan adanya kenaikan suku bunga acuan pada paruh kedua tahun ini.
Melansir CNA, Rabu, 6 Mei 2026, berdasarkan rilis terbaru data resmi Pemerintah Korea Selatan, Indeks Harga Konsumen (IHK) terkerek naik 2,6 persen pada April secara tahunan (yoy). Angka ini melesat dari capaian Maret yang berada di level 2,2 persen. Lonjakan tersebut sejalan dengan proyeksi median jajak pendapat Reuters dan menandai kenaikan tahunan tertinggi sejak Juli 2024.
Secara bulanan, inflasi merangkak naik 0,5 persen, lebih tinggi dari laju bulan sebelumnya yang mencatat kenaikan 0,3 persen. Kementerian Data dan Statistik setempat merinci lonjakan ini utamanya disumbang oleh harga produk minyak bumi yang melesat 7,9 persen dalam sebulan, yang turut diperparah oleh lonjakan tarif penerbangan internasional hingga menembus 13,5 persen.
Ekonom Hana Securities Chun Kyu-yeon menilai intervensi Pemerintah Korea Selatan melalui kebijakan pembatasan harga bahan bakar nasional telah cukup efektif meredam tekanan inflasi.
"Namun, tren kenaikan tersebut akan tetap berlaku untuk sementara waktu, karena ada kemungkinan besar inflasi harga jasa juga akan meningkat karena faktor-faktor seperti kenaikan tarif penerbangan," kata Chun.
| Baca juga: Kendalikan Inflasi, Pemerintah Perkuat Intervensi Jaga Harga Pangan |
Gejolak tekanan pasar
Merespons rilis inflasi tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan bertenor tiga tahun yang sensitif terhadap pergerakan kebijakan naik 6 basis poin menjadi 3,675 persen pada Rabu waktu setempat. Angka ini menyentuh level tertingginya sejak November 2023.
Ketidakpastian harga minyak sempat mereda usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa menyatakan akan menangguhkan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil menyusul adanya kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, yang seketika memicu anjloknya harga minyak dunia.
Menghadapi tingginya ketidakpastian eksternal, Bank Sentral Korea memproyeksikan inflasi domestik masih berpotensi menanjak pada Mei. Otoritas moneter tersebut berjanji akan memantau tren inflasi secara saksama di tengah ketidakpastian yang tinggi terkait situasi di Timur Tengah.
Sinyal pengetatan moneter kian menguat pekan ini setelah Wakil Gubernur Bank Sentral Korea Ryoo Sang-dai mengatakan sudah saatnya otoritas mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga. Ryoo menilai tekanan inflasi masih tinggi, kendati pemerintah telah memberlakukan batas harga bahan bakar pada Maret lalu untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Bank sentral bakal kerek suku bunga
Ekonom Daishin Securities Kong Dong-rak menyoroti adanya pergeseran sikap Bank Sentral Korea dari pendekatan tunggu dan lihat di tengah ketidakpastian mengenai dampak terhadap pertumbuhan dan inflasi menjadi langkah maju dalam merespons inflasi.
"Tampaknya ada kemungkinan Bank Sentral Korea memberikan sinyal perubahan kebijakan bulan ini dan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya di bulan Juli," kata Kong.
Ia juga menambahkan komentar Wakil Gubernur Bank Sentral Korea sebelumnya mengindikasikan kemungkinan adanya siklus kenaikan suku bunga yang terdiri dari beberapa kali kenaikan, bukan kenaikan satu kali.
Bank Sentral Korea kini masih mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 2,50 persen sejak Mei 2025, pascakeputusan empat kali pemangkasan berturut-turut sebesar 25 basis poin yang dimulai pada Oktober 2024.
Siklus kenaikan suku bunga terakhir dilakukan Bank Sentral Korea pada Januari 2023 yang mengerek bunga ke level 3,50 persen dan tertinggi sejak November 2008 dengan kenaikan 300 basis poin dalam 1,5 tahun di tengah krisis imbas perang Rusia-Ukraina.
Bank Sentral Korea dijadwalkan akan menggelar pertemuan membahas kebijakan moneter berikutnya pada 28 Mei 2026.