Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di CFD HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Foto: Tangkapan layar.
Pramono 'Gowes' Sepeda di CFD Rasuna Said
Husen Miftahudin • 10 May 2026 07:21
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengendari sepeda di titik baru uji coba Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, yang mulai diberlakukan hari ini, 10 Mei 2026.
Selain sebagai wujud untuk mendukung gaya kampanye ramah lingkungan dan uji coba CFD di Jalan HR Rasuna Said, kehadiran Pramono juga untuk melakukan Deklarasi Gerakan Pilah Sampah dan Pencanangan HUT Ke-499 Kota Jakarta yang akan digelar hari ini.
"Pagi ini kita memulai hari baru, Car Free Day pertama kali di Jalan Rasuna Said," ungkap Pramono ditemui di CFD Jalan H.R. Rasuna Said, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Minggu, 10 Mei 2026.
Sejalan dengan kebijakan ini, Pramono menargetkan revitalisasi kawasan bekas jalur monorel di Jalan HR Rasuna Said bisa tuntas awal Juni. Dia berharap peresmian bisa dilakukan pada 22 Juni 2026 mendatang.
"Saya sengaja ingin menunjukkan pada masyarakat kalau jalan belum jadi karena memang tempat ini nanti jalannya akan kita buat rapi dan view-nya pasti bagus. Mudah-mudahan bulan Juni CFD di Rasuna Said sudah bisa berlangsung dengan baik," papar dia.
| Baca juga: Ondel-Ondel Meriahkan CFD Perdana di HR Rasuna Said |

(Ondel-Ondel di uji CFD kawasan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Foto: Metro TV/Aris Setya)
Wujudkan Jakarta jadi kota global
Selain perluasan CFD di Jalan HR Rasuna Said, Pramono juga akan melakukan pencanangan "Deklarasi Jaga Jakarta Bersih, Gerakan Pilah Pilih Sampah". Menurut dia, upaya ini menjadi persiapan bagi Jakarta untuk menjadi bagian dari kota yang berkompetisi secara global.
"Maka untuk itu, Jakarta selain menjadi kota yang global serta menjadi pusat perekonomian nasional, sekaligus problem utama salah satu di Jakarta adalah mengenai sampah, kami akan memulai dengan gerakan pilah sampah di rumah. Ini akan dimulai hari ini," tegas dia.
Pramono menekankan, deklarasi ini penting dilakukan karena menurut dia, permasalahan sampah di Jakarta sudah tidak bisa menunggu lagi. Sebab Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang memiliki keterbatasan.
"Dulu kan penanganan sampah kita hanya kumpulkan, angkut. Sekarang pilah dulu, baru diangkut dan dipisahkan. Yang organik dan anorganik dipisahkan," tutur Pramono.
"Kemudian ini akan memudahkan bagi Pemerintah DKI Jakarta untuk penanganan sampah karena sudah tidak bisa lagi sampah itu ditangai oleh pemerintah saja, tetapi partisipasi publik masyarakat sangat-sangat diperlukan," tutup Pramono.