Ilustrasi. Foto: Freepik.
Ini Strategi Astra Hadapi Gempuran Kendaraan Listrik Tiongkok
Richard Alkhalik • 24 April 2026 11:20
Jakarta: Lanskap industri otomotif nasional tengah menghadapi disrupsi seiring masuknya beragam merek kendaraan listrik asal Tiongkok dan Korea Selatan yang menawarkan harga lebih terjangkau. Merespons hal tersebut, PT Astra International Tbk menegaskan tetap mempertahankan strategi transisi menggunakan pendekatan multi jalur.
Direktur Astra International Gidion Hasan menilai karakteristik pasar Indonesia sangat majemuk dan luas, sehingga kendaraan bertenaga listrik, hybrid, maupun mesin pembakaran internal konvensional akan terus eksis berdampingan di masyarakat. Sekaligus menjadi langkah perseroan dalam mengamankan pangsa pasar (market share) di level 50 persen.
Gidion mengatakan, tingkat adopsi kendaraan listrik saat ini masih terpusat di kota-kota besar di Jabodetabek yang telah didukung infrastruktur pengisian daya memadai, sementara kendaraan jenis konvensional dan hybrid masih menjadi tumpuan di kota-kota lapisan kedua.
"Otomatis strategi kami dari Astra adalah mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat dengan produk-produk yang benar-benar fit terhadap pasar," ungkap Gidion dalam paparan publik hasil RUPST di Menara Astra, Jakarta, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Guna membentengi pangsa pasarnya, Gidion menegaskan Astra tidak hanya mengandalkan peluncuran produk baru, melainkan akan mengoptimalkan kekuatan ekosistem hulu ke hilirnya dengan bertumpu pada jaringan dealer yang menjual dan melayani produk, layanan pembiayaan ritel (retail financing), hingga after-sales untuk pasar mobil yang terjangkau dan menghadirkan ketenangan bagi konsumen.

Direktur Astra International Gidion Hasan. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.
Astra Andalkan Ketahanan Ekosistem Terintegrasi
Terkait imbas perang di Timur Tengah, khususnya potensi lonjakan harga energi dan depresiasi rupiah, Presiden Direktur Astra International Rudy tidak menampik adanya tekanan eksternal terhadap perusahaan.
Rudy mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan pada struktur ongkos produksi (production cost), mengingat sebagian material baku masih mengandalkan komponen impor.
Kendati dibayangi tekanan biaya operasional, Rudy memastikan Astra memiliki instrumen pertahanan yang kokoh berkat ekosistem rantai pasok perseroan yang lengkap dan terintegrasi, mulai dari sektor manufaktur hingga distribusi.
"Untungnya kita punya ekosistem yang cukup lengkap, yang mencakup manufaktur, distribusi, dan lain sebagainya. Sehingga ketahanan kita lebih tinggi karena kita bisa menyeimbangkan beban operasional dari satu sama yang lain," papar Rudy dalam paparan publik hasil RUPST di Menara Astra, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Di sisi lain, Ia menambahkan akan terus mengevaluasi efektivitas investasi perseroan di sektor-sektor baru, seperti sektor kesehatan (healthcare) untuk menentukan arah ekspansi ke depan. Adapun rincian lebih lanjut mengenai tinjauan strategis dan rilis kinerja keuangan perseroan diproyeksikan akan diumumkan pada pekan mendatang.