Kisah Kepala Sekolah Nepal Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Mematikan

Kepala sekolah di Nepal menyelamatkan sekitar 900 siswa setelah memerintahkan evakuasi beberapa menit sebelum banjir melanda. (Anadolu Agency)

Kisah Kepala Sekolah Nepal Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Mematikan

Willy Haryono • 31 August 2026 21:05

Kathmandu: Kepala sekolah di Nepal menyelamatkan sekitar 900 siswa setelah memerintahkan mereka meninggalkan sekolah hanya beberapa menit sebelum banjir dahsyat menerjang kawasan tersebut.

Banjir bandang dan longsor di sepanjang perbatasan Nepal-Tiongkok telah menewaskan sedikitnya 919 orang, sementara 4.793 lainnya masih hilang, termasuk 853 warga asing, berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Senin, 31 Agustus 2026.

Kepala Tribhuvan Trishuli Secondary School di Distrik Nuwakot, Rajendra Dawadi, menerima empat peringatan sekitar pukul 09.10 waktu setempat mengenai datangnya banjir.

Dawadi segera memerintahkan seluruh siswa meninggalkan sekolah dan menuju tempat yang lebih tinggi. Bus-bus yang membawa siswa juga diminta berbalik arah.

“Jika kami tidak mengambil keputusan dengan cepat, jika terlambat 10 menit, kami semua, termasuk para siswa dan saya, tidak akan bisa berbicara dengan Anda hari ini,” kata Dawadi kepada kantor berita BBC.

Menurut BBC, sekitar 900 siswa berhasil diselamatkan berkat keputusan tersebut.

Dawadi mengatakan peringatan dari sejumlah orang membuatnya menyadari bahwa tidak ada waktu untuk menunggu. Keputusan itu semakin diperkuat setelah seorang orang tua datang untuk menjemput anaknya setelah mendengar informasi mengenai banjir besar yang sedang menuju sekolah.

Siswa Lolos dalam Hitungan Detik

Salah seorang siswa, Yunisha Amatya, 16 tahun, mengatakan dirinya dan teman-temannya melarikan diri menuju tempat yang lebih tinggi melalui jalur sempit di belakang sekolah.

“Kami selamat hanya dalam waktu 10 detik,” kata Yunisha kepada BBC.

Ketika para siswa berusaha menyelamatkan diri, keluarga mereka juga berupaya mencari keberadaan masing-masing.

Ibu Yunisha, Sabina Kumari Shrestha, berulang kali mencoba menghubungi putrinya dan suaminya, tetapi tidak berhasil. Ayah Yunisha, Yubaraj Amatya, langsung menuju sekolah setelah mendengar kabar mengenai banjir.

“Dalam beberapa menit saya bergegas menuju sekolah anak saya dan Trishuli Bazar sudah tersapu banjir. Saat itu saya berpikir anak saya sudah tidak ada,” ujarnya.

Meski melihat air banjir mengalir di hadapannya, Amatya mengatakan tidak sanggup kembali sebelum memastikan kondisi putrinya.

Siswa Sekolah Lain Juga Dievakuasi

Kejadian serupa terjadi di sebuah sekolah lain di Galchhi. Para guru memerintahkan siswa meninggalkan tas dan kotak makan mereka sebelum mengevakuasi diri ketika air banjir mulai mendekat, menurut ABC News.

Sementara itu, siswa dan guru Tribhuvan Trishuli sempat berlindung beberapa ratus meter dari sekolah di lokasi yang lebih tinggi. Mereka kemudian menuju desa terdekat.

Sebagian dari mereka terpaksa bertahan selama dua malam setelah banjir memutus akses jalan dan jaringan transportasi.

Bencana tersebut terjadi setelah runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya memicu aliran air, lumpur, es, dan material lainnya yang menerjang lembah-lembah di sepanjang perbatasan Nepal-Tiongkok.

Besarnya skala bencana membuat operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, sementara ribuan orang masih belum diketahui keberadaannya.

Baca juga: Korban Tewas Banjir Nepal-Tiongkok Tembus 919 Orang, Hampir 4.800 Masih Hilang

(Willy Haryono)