Kim Jong-un kerap menyaksikan uji coba peluncuran rudal balistik dan hipersonik. (KCNA / Yonhap)
Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik, Klaim Pasukan Nuklir Siap Perang
Muhammad Reyhansyah • 5 January 2026 09:42
Pyongyang: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memimpin langsung uji coba penembakan rudal hipersonik yang disebut sebagai teknologi mutakhir, dengan tujuan mempersiapkan pasukan nuklir Pyongyang menghadapi kemungkinan perang. Media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa uji coba tersebut dilakukan pada Minggu, 4 Januari 2026.
Menurut Pyongyang, uji coba ini menjadi semakin mendesak di tengah apa yang disebut sebagai “krisis geopolitik terbaru”, sebuah pernyataan yang secara tersirat merujuk pada peristiwa internasional akhir pekan lalu yang melibatkan sekutu sosialis Korea Utara, Venezuela.
Mengutip Channel News Asia, Senin, 5 Januari 2026, otoritas Korea Selatan dan Jepang menyatakan bahwa mereka mendeteksi peluncuran dua rudal balistik dari wilayah dekat Pyongyang.
Uji coba ini merupakan yang pertama dilakukan Korea Utara pada tahun ini dan berlangsung hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertolak ke Beijing untuk menghadiri pertemuan puncak.
Lee sebelumnya menyampaikan harapannya untuk memanfaatkan pengaruh Tiongkok terhadap Korea Utara guna memperbaiki hubungan antara Seoul dan Pyongyang. Namun, peluncuran rudal tersebut kembali menegaskan sikap keras Korea Utara di tengah dinamika diplomasi kawasan.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) mengutip pernyataan Kim Jong Un yang menyebut uji coba tersebut menunjukkan “kesiapan pasukan nuklir Republik Rakyat Demokratik Korea," merujuk pada nama resmi Korea Utara.
Kim mengatakan bahwa “pencapaian penting baru-baru ini telah diraih dalam menempatkan pasukan nuklir kami pada basis praktis dan mempersiapkannya untuk perang yang sebenarnya.”
Ia menambahkan bahwa aktivitas tersebut bertujuan untuk secara bertahap meningkatkan kemampuan pencegah perang nuklir ke tingkat yang lebih maju. Menurut Kim, urgensi langkah ini tercermin dari “krisis geopolitik terbaru dan peristiwa internasional yang rumit," sebuah pernyataan yang secara jelas merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada akhir pekan.
Operasi tersebut dinilai sebagai skenario terburuk bagi kepemimpinan Korea Utara, yang selama ini menuduh Washington berupaya menggulingkan pemerintahannya. Selama beberapa dekade, Pyongyang membenarkan program nuklir dan rudalnya sebagai alat pencegah terhadap apa yang dianggap sebagai upaya perubahan rezim oleh Amerika Serikat.
Sistem senjata baru Korea Utara yang menggunakan rudal hipersonik pertama kali diuji pada Oktober lalu. Rudal hipersonik mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara dan dapat bermanuver di tengah penerbangan, sehingga jauh lebih sulit dideteksi dan dicegat.
Jenis senjata ini juga telah digunakan secara mematikan dalam konflik global tahun ini, termasuk oleh Rusia di Ukraina, negara yang hubungannya dengan Korea Utara semakin erat dalam beberapa tahun terakhir serta oleh Iran dalam serangan terhadap Israel.
Baca nuga: Kim Jong-Un Klaim Sistem Roket Baru dapat Dengan Mudah Hancurkan Musuh