Rentetan Insiden Tambang Runtuh di RD Kongo Tewaskan 200 Orang

Aktivitas penambangan di RD Kongo. (Anadolu Agency)

Rentetan Insiden Tambang Runtuh di RD Kongo Tewaskan 200 Orang

Willy Haryono • 1 February 2026 09:30

Rubaya: Tanah longsor yang terjadi awal pekan ini di sejumlah lokasi tambang coltan utama di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) menewaskan sedikitnya 200 orang, menurut otoritas setempat yang ditunjuk kelompok pemberontak.

Longsor tersebut terjadi pada Rabu lalu di kawasan tambang Rubaya, yang saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23. Hal itu disampaikan oleh Lumumba Kambere Muyisa, juru bicara gubernur Provinsi North Kivu versi pemberontak, kepada Associated Press.

“Untuk sementara, jumlah korban tewas telah melampaui 200 orang. Sebagian korban masih tertimbun lumpur dan belum berhasil dievakuasi,” kata Muyisa, dikutip dari NPR, Minggu, 1 Februari 2026.

Ia menyebutkan bahwa longsor dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.

Muyisa menambahkan, sejumlah korban luka telah dibawa ke tiga fasilitas kesehatan di kota Rubaya. Sementara itu, ambulans dijadwalkan mengangkut korban luka lainnya ke Goma, kota terdekat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi tambang.

Sebagai langkah darurat, gubernur North Kivu versi pemberontak memerintahkan penghentian sementara aktivitas pertambangan rakyat di lokasi tersebut serta relokasi warga yang membangun tempat tinggal di sekitar area tambang.

Risiko Longsor

Pemerintah Kongo, melalui pernyataan di platform X, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus menuding kelompok pemberontak melakukan eksploitasi sumber daya alam secara ilegal dan tidak aman.

Seorang mantan penambang di Rubaya, Clovis Mafare, mengatakan bahwa insiden longsor bukan hal baru di kawasan tersebut. Menurutnya, terowongan tambang digali secara manual, dibangun tanpa standar keselamatan, dan dibiarkan tanpa perawatan.

“Orang menggali di mana-mana tanpa pengawasan atau langkah keselamatan. Dalam satu lubang saja bisa ada hingga 500 penambang. Karena terowongan-terowongan saling sejajar, satu longsor bisa berdampak ke banyak lubang sekaligus,” ujarnya.

Rubaya terletak di jantung wilayah timur Kongo yang kaya mineral, kawasan yang selama puluhan tahun dilanda konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan berbagai kelompok bersenjata. Kebangkitan kembali M23, yang didukung Rwanda menurut laporan internasional, telah memperburuk konflik dan memperparah krisis kemanusiaan.

Krisis RD Kongo

Kongo merupakan pemasok utama coltan dunia, mineral logam hitam yang mengandung tantalum, bahan penting dalam pembuatan telepon pintar, komputer, dan mesin pesawat.

Menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Kongo menyumbang sekitar 40 persen produksi coltan global pada 2023, dengan Australia, Kanada, dan Brasil sebagai pemasok utama lainnya. Lebih dari 15 persen pasokan tantalum dunia diketahui berasal dari tambang Rubaya.

Pada Mei 2024, M23 merebut kota Rubaya dan menguasai tambang-tambangnya. Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejak menguasai wilayah tersebut, M23 memberlakukan pajak atas perdagangan dan transportasi coltan, dengan pendapatan mencapai sedikitnya US$800.000 per bulan.

Wilayah timur Kongo telah mengalami krisis berkepanjangan selama beberapa dekade. Konflik bersenjata telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan lebih dari 7 juta orang mengungsi, termasuk lebih dari 300.000 orang yang meninggalkan rumah mereka sejak Desember lalu.

Meski pemerintah Kongo dan Rwanda telah menandatangani kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat dan perundingan dengan kelompok pemberontak terus berlangsung, pertempuran masih terjadi di sejumlah wilayah timur Kongo dan terus menelan korban sipil maupun militer.

Kesepakatan tersebut juga membuka akses terhadap mineral kritis Kongo bagi pemerintah dan perusahaan Amerika Serikat.

Baca juga:  Puluhan Orang Dikhawatirkan Tewas dalam Insiden Tambang Runtuh di Kongo

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)