Ilustrasi polusi. Foto: Magnific
20 Negara dengan Tingkat Polusi Tertinggi dan Terendah di Dunia
Muhamad Marup • 17 September 2026 17:21
Jakarta: Polusi udara masih menjadi persoalan di berbagai negara. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat polusi udara adalah konsentrasi PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Konsentrasi PM2.5 biasanya dinyatakan dalam mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 dapat berasal dari berbagai sumber, seperti asap kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran bahan bakar, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Partikel ini dapat melayang di udara dan terhirup saat seseorang bernapas. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.
Partikel ini dapat memicu atau memperparah asma, bronkitis, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Dilansir dari IQAir, World Air Quality Report tiap tahunnya selalu mencatat rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan di berbagai negara dan wilayah.
Sebagai pembanding, batas aman rata-rata tahunan untuk polusi udara jenis PM2.5 yang ditetapkan oleh WHO berada pada angka 5 µg/m³. Metrotvnews.com telah merangkum daftar negara dengan tingkat polusi tertinggi dan terendah berikut.
Konsentrasi PM2.5 biasanya dinyatakan dalam mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 dapat berasal dari berbagai sumber, seperti asap kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran bahan bakar, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Partikel ini dapat melayang di udara dan terhirup saat seseorang bernapas. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.
Partikel ini dapat memicu atau memperparah asma, bronkitis, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Dilansir dari IQAir, World Air Quality Report tiap tahunnya selalu mencatat rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan di berbagai negara dan wilayah.
Sebagai pembanding, batas aman rata-rata tahunan untuk polusi udara jenis PM2.5 yang ditetapkan oleh WHO berada pada angka 5 µg/m³. Metrotvnews.com telah merangkum daftar negara dengan tingkat polusi tertinggi dan terendah berikut.
20 Negara dengan Polusi Terendah
- French Polynesia - 1,8 µg/m³
- Puerto Rico - 2,4 µg/m³
- U.S Virgin Island, Amerika - 2,5 µg/m³
- Barbados - 2,6 µg/m³
- New Caledonia - 3,6 µg/m³
- Islandia - 3,7 µg/m³
- Bermuda - 3,8 µg/m³
- Reunion, Prancis - 4,3 µg/m³
- Andorra - 4,3 µg/m³
- Australia - 4,4 µg/m³
- Grenada - 4,7 µg/m³
- Panama - 4,8 µg/m³
- Estonia - 4,9 µg/m³
- New Zealand - 5,1 µg/m³
- Finlandia - 5,2 µg/m³
- Swedia - 5,5 µg/m³
- Trinidad and Tobago - 5,5 µg/m³
- Costa Rica - 6,1 µg/m³
- Norwegia - 6,2 µg/m³
- Honduras 6,3 µg/m³
20 Negara dengan Polusi Tertinggi di Dunia
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Tantawi Jauhari)
- Pakistan - 67,3 µg/m³
- Bangladesh - 66,1 µg/m³
- Tajikistan - 57,3 µg/m³
- Chad - 53,6 µg/m³
- Republik Demokratik Kongo - 50,2 µg/m³
- India - 48,9 µg/m³
- Kuwait - 45,7 µg/m³
- Uganda - 43,0 µg/m³
- Mesir - 40,6 µg/m³
- Uzbekistan - 38,1 µg/m³
- Irak - 38,1 µg/m³
- Nepal - 37,4 µg/m³
- Uni Emirat Arab - 36,4 µg/m³
- Bahrain - 35,9 µg/m³
- Rwanda - 34,5 µg/m³
- Qatar - 33,9 µg/m³
- Indonesia - 30,0 µg/m³
- Vietnam - 29,7 µg/m³
- Kirgiztan - 29,7 µg/m³
- China - 29,6 µg/m³
Indonesia berada di peringkat ke-17 dengan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 30,0 µg/m³ pada 2025. Angka tersebut menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 35,5 µg/m³.
Indonesia bahkan pernah mencapai 51,7 µg/m³ pada 2019. Meski demikian, konsentrasi PM2.5 Indonesia masih berada jauh di atas rata-rata tahunan WHO sebesar 5 µg/m³.
Pemeringkatan IQAir menggunakan rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan, sehingga data tersebut menggambarkan kondisi sepanjang 2025 dan bukan kualitas udara pada waktu tertentu.
(Siti Nahdia Usman)
Pemeringkatan IQAir menggunakan rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan, sehingga data tersebut menggambarkan kondisi sepanjang 2025 dan bukan kualitas udara pada waktu tertentu.
(Siti Nahdia Usman)