Kualitas Udara Pontianak Berbahaya, Indeks Polusi Tembus 1.087

Kondisi kabut asap kian pekat di Kota Pontianak, Sabtu, 19 September 2026. (ANTARA/Dedi)

Kualitas Udara Pontianak Berbahaya, Indeks Polusi Tembus 1.087

Silvana Febiari • 19 September 2026 19:13

Pontianak: Kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat kembali menunjukkan kondisi yang sangat buruk. Berdasarkan pantauan IQAir pada pukul 16.00 WIB, indeks kualitas udara berbahaya karena AQI+ tercatat mencapai 1.0878.

"Kemarin udara sudah lumayan bagus dengan indeks 235. Baru satu hari bagus, kini sore makin parah tembus 1.000. Kami berharap kondisi saat ini segera pulih sehingga tidak mengkhawatirkan bagi kesehatan warga," ujar warga Pontianak, Darson, dilansir dari Antara, Sabtu, 19 September 2026.

Dari data IQAir, polutan utama udara yang mendominasi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 620 µg/m³. Tingginya konsentrasi partikulat halus ini menunjukkan kondisi udara yang sangat tercemar dan berpotensi memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.


PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam kondisi konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan pada masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.

Data IQAir menunjukkan kondisi udara diperkirakan masih sangat buruk hingga malam hari, meskipun terdapat tren penurunan. Pada pukul 17.00, AQI diprakirakan berada di angka 1.011, kemudian turun menjadi 931 pada pukul 18.00 WIB, 849 pada pukul 19.00 WIB, 766 pada pukul 20.00, dan 682 pada pukul 21.00 WIB.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Penggunaan masker penyaring partikulat halus juga dianjurkan untuk mengurangi paparan asap.


Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: Antara.


Sebelumnya, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kam mengimbau masyarakat menggunakan masker. Ia juga meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan menyusul kualitas udara yang tidak sehat akibat kabut asap karhutla.

"Kondisi udara saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Saya minta masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak," ungkap dia.

Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak, Nur Anissa mengingatkan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jangka panjang berisiko menurunkan fungsi paru dan meningkatkan reaktivitas saluran napas.

“Kabut asap sendiri memberikan dampak bagi kesehatan kita. Tingkat risiko kesehatan akibat paparan kabut asap dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain konsentrasi polutan, lamanya paparan, ukuran partikel, aktivitas seseorang, serta tingkat kerentanan individu terhadap asap," jelas dia.

(Silvana Febiari)