Pemilu Dua Negara Bagian Jerman Uji Tekanan Politik terhadap Kanselir Merz

Kanselir Jerman Friedrich Merz. (Anadolu Agency)

Pemilu Dua Negara Bagian Jerman Uji Tekanan Politik terhadap Kanselir Merz

Willy Haryono • 20 September 2026 18:32

Berlin: Dua negara bagian Jerman, Mecklenburg-Western Pomerania dan Berlin, menggelar pemilihan umum pada Minggu, 20 September 2026.

Mengutip dari AsiaOne, pemilu di kedua wilayah berlangsung di tengah meningkatnya dukungan terhadap partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) dan tekanan terhadap Kanselir Friedrich Merz.

Pemilu digelar di Mecklenburg-Western Pomerania, wilayah yang sebagian besar merupakan kawasan pedesaan di bekas Jerman Timur, serta di Berlin, ibu kota Jerman. Hasil pemilu regional tersebut dinilai dapat memengaruhi posisi politik Merz dan kemampuannya mendorong agenda reformasi ekonomi.

Pemungutan suara berlangsung dua pekan setelah AfD hampir meraih mayoritas di negara bagian kecil Saxony-Anhalt, Jerman timur. Hasil tersebut juga membuka peluang bagi AfD untuk membentuk pemerintahan regional sayap kanan pertama di Jerman sejak Perang Dunia II.

Posisi Merz dan partainya, Christian Democratic Union (CDU), sebelumnya terpukul setelah AfD mengalahkan CDU dalam pemilu di Saxony-Anhalt pada 6 September.

Hasil tersebut mengejutkan banyak warga Jerman yang selama ini meyakini negaranya telah membangun ketahanan terhadap nasionalisme dan gagasan superioritas rasial setelah menghadapi kejahatan masa Nazi melalui pendidikan dan aturan yang melarang penganiayaan.

AfD diperkirakan kembali meraih peningkatan dukungan dalam pemilu Minggu ini. Namun, partai tersebut disebut tidak memiliki jalur realistis untuk berkuasa di Berlin dan menghadapi persaingan lebih kuat dari gubernur Mecklenburg-Western Pomerania yang berasal dari kelompok kiri-tengah dibandingkan ketika berhadapan dengan partai Merz di Saxony-Anhalt.

Tekanan terhadap CDU

Sementara itu, posisi CDU juga menghadapi tekanan. Partai tersebut berpotensi kehilangan jabatan wali kota Berlin. Dalam skenario yang lebih buruk, CDU dapat gagal untuk pertama kalinya memperoleh kursi di parlemen negara bagian mana pun jika perolehan suaranya di Mecklenburg-Western Pomerania berada di bawah ambang batas 5 persen.

Merz, 70 tahun, menjadi pemimpin Jerman 16 bulan lalu dengan janji membalikkan kondisi ekonomi yang hampir tidak tumbuh selama bertahun-tahun. Namun, dia belum berhasil memperbaiki suasana nasional yang suram dan popularitasnya juga menurun.

Perolehan suara kuat AfD di Saxony-Anhalt semakin menekan posisi Merz di tingkat nasional. Dalam dua pekan terakhir, bahkan muncul seruan dari internal partainya agar Merz digantikan sebagai kanselir.

Namun, belum ada tokoh senior CDU yang secara terbuka menyerukan kepergiannya, sementara sejumlah pihak memperingatkan agar tidak membuka “perdebatan personalia."

Mengantisipasi periode sulit setelah pemilu, Merz membatalkan rencana kunjungannya ke New York pekan depan untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB. Di tengah tekanan tersebut, Merz berulang kali mengatakan dirinya bertekad bertahan dan menyelesaikan masa jabatannya sebagai kanselir.

Baca juga: Partai Sayap Kanan Jerman Menang Pemilu, Lithuania Khawatir Risiko Populisme

(Willy Haryono)